PT RNI Bukukan Laba Bersih Rp 69 Miliar

0
285

image

JAKARTA – Di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum menggembira
kan serta tren perlambatan perekonomi
an negara-negara berkembang belakangan ini, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), pada tahun buku 2015, mampu tampil dengan kinerja yang lebih baik dari tahun sebelumnya dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 69 miliar atau meningkat 120,88% dibanding tahun 2014 yang mencatat kerugian sebesar Rp330,53 miliar. Pencapaian tersebut terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT RNI, pada Selasa, 14 Juni 2016, di Kementerian BUMN, Jakarta.

Hasil gemilang tersebut dipicu oleh peningkatan produktivitas dari beberapa komoditas unggulan seperti gula, teh, farmasi dan alat kesehatan, trading dan distribusi, serta peningkatan penjualan dan kinerja laba anak perusahaan. Untuk komoditas gula sediri, produksinya tercatat meningkat sebesar 0,91% dari 318.749 ton di tahun 2014 menjadi 321.652 ton di tahun 2015. Peningkatan produksi juga terjadi pada komoditas teh sebesar 13,07% atau mencapai 4.351 ton.

Sementara itu, dari sisi penjualan, di tahun 2015 perusahaan mencatatkan penjualan sebesar Rp 5.632,86 miliar, tumbuh 13,31% atau Rp 661,76 miliar dari Rp 4.971,10 miliar di tahun 2014. Penjualan utama berasal dari kelompok industri gula sebesar Rp 2.302,70 miliar (40,88%), kelompok industri farmasi dan alat kesehatan sebesar Rp 1.675,85 miliar (29,75%), kelompok perdagangan umum sebesar Rp 1.289,81 miliar (21,39%), dan kelompok perkebunan sebesar Rp364,49 miliar (6,47%). Sementara penurunan terjadi pada produksi crude palm oil (CPO) dan palm kernel (PK) dikarenakan rendahnya produktivitas kebun, produksi karet juga menurun mengingat umur tanaman yang sudah tua.

Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo mengatakan, secara umum, kinerja perseroan di tahun buku 2015 jauh lebih baik dibanding kinerja tahun 2014. Hal tersebut disebabkan oleh pembenahan internal yang dilakukan serta dukungan faktor eksternal yang semakin membaik di semester II tahun 2015, seperti perbaikan pertumbuhan perekonomian Indonesia, nilai tukar Rupiah, tingkat inflasi dan peningkatan harga komoditas gula. “Di samping itu, perseroan melakukan beberapa langkah strategis untuk mencapai sasaran yang tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2015,” ungkapnya.

Langkah-langkah Strategis
Beberapa kebijakan strategis tersebut, lanjut Didik, diantaranya dalam hal investasi dan keuangan. Perusahaan didorong melakukan peningkatan kapasitas produksi, pangsa pasar, kualitas produk serta nilai tambah yang maksimal melalui investasi yang dilakukan dengan efektif dan selektif. Investasi dilakukan terbatas hanya pada lingkungan Industri yang prospektif dan benar-benar potensial memberikan nilai tambah. Setiap investasi, terang Didik, harus melalui feasibility study (FS) dan kajian risiko yang memadai. “Tidak ada lagi investasi dan pengembangan yang dilakukan tanpa melakukan kajian mendalam,” jelasnya.

Adapun pengembangan produk baru, jelas Didik, dilakukan dengan maksimal mengedepankan prinsip sinergi BUMN serta pemberdayaan sumber daya yang ada, agar sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah aset non produktif dan SDM. “Investasi dan pengembangan kami arahkan untuk mengantisipasi permasalahan operasional, khususnya terkait isu lingkungan hidup, kelangkaan tenaga kerja, upah yang makin mahal, dan penghematan energi, seperti melalui penguatan mekanisasi pertanian, optimasi aplikasi pupuk organik, optimasi penggunaan energi, dan pengamanan ketaatan atas regulasi terkait lingkungan hidup,” papar Didik

Dalam bidang keuangan, pihaknya memberlakukan optimalisasi dana pada anak perusahaan dengan menerapkan cash management sebagai alternatif pendanaan bagi group. “Setiap pengeluaran biaya harus selalu dimonitor dan mengacu pada anggaran yang telah ditetapkan. Selain itu, pinjaman modal kerja kepada anak perusahaan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kemandirian pendanaan,” jelasnya.

Guna memantapkan pencapaian, juga ditempuh langka perbaikan di bidang operasional melalui perencanaan produksi yang disusun dengan memperhatikan kepentingan atau tujuan perusahaan dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Kinerja operasional secara simultan diarahkan pada pencapaian target produksi, produktivitas, mutu produk, dan HPP full costing dengan produk impor sejenis sebagai rujukan (benchmark).

“Tantangan yang dihadapi PT RNI ke depan akan semakin ketat, untuk itu, fokus perencanaan produksi akan mengedepankan peningkatan daya saing dengan produk-produk kompetitor baik dari dalam maupun luar negeri,” kata Didik.

Dalam bidang agro, yang merupakan tulang punggung bisnis PT RNI, Perusahaan memandang petani sebagai mitra strategis yang harus dilindungi kepentingannya serta perlu didorong agar tetap mendapatkan profit yang layak. Kuncinya dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan, saling percaya melalui proses yang transparan, bertanggung jawab dan adil. “Kami juga akan semakin tingkatkan kerja sama dengan lembaga penelitian untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna yang relevan dan efektif mendorong peningkatan produksi, produktivitas dan penurunan HPP,” ungkap Didik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here