Properti Lesu, Bisnis Furniture Terdampak

– SPRINGBED- Pengunjung tengah melihat-lihat produk springbed yang dipamerkan dalam pameran springbed dan furniture yang digelar Rumah Kita di Mall Ciputra Semarang, mulai 1-12 September 2016. Foto : ANING KARINDRA


SEMARANG- Melemahnya sektor properti di Jawa Tengah berdampak pada menurunnya permintaan furnitur. Sepanjang tahun ini penjualan furniture setidaknya anjlok hingga 10% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Owner Rumah Kita Springbed dan Furniture, Jimmy Jati Utomo mengatakan, selama ini banyak pengusaha furniture yang bekerja sama dengan pengembang, baik perumahan maupun apartemen. Dengan lesunya bisnis properti, maka secara tidak langsung juga berimbas pada bisnis furniture.

“Sektor properti merupakan pasar yang potensial bagi produk furniture. Dengan menggandeng pengembang perumahan cukup mendongkrak penjualan selin dari penjualan ritel,” katanya, disela Pameran Rumah Kita yang digelar di Mall Ciputra Semarang mulai 1-12 September 2016.

Jimmy berharap, memasuki semester II/2016 ini penjualan terus meningkat, mengingat sudah banyak apartemen yang diserahterimakan kepada konsumen. Dengan begitu, banyak konsumen apartemen yang mulai membeli isi apartemen, mulai dari springbed, meja, kursi, dan beberapa jenis furnitur lain.

“Melalui pameran ini diharapkan bisa menjaring konsumen-konsumen potensial tersebut,” ungkapnya.

Meski tidak menyampaikan target transaksi, Jimmy berharap penjualan pada pameran kali ini lebih baik dibandingkan pameran sebelumnya.
Beberapa merek springbed yang ditawarkan pada pameran diantaranya King Koil, Serta, dan Airland.

“Total peserta yang mengikuti pameran kali ini ada 13 peserta,” jelasnya.

Berbeda dengan pameran sebelumnya, untuk kali ini pihaknya melibatkan merek furnitur Charis. Pada pameran tersebut, Charis menawarkan penjualan dengan sistem paket mulai dari Rp30-40 juta.

“Total ada 4 paket yang ditawarkan, mulai dari satu set sofa untuk ruang tamu, ranjang, meja rias, dan ‘coffee table’,” terangnya.(aln)