BRI Garap KPR Sektor Pekerja Informal

0
271



SEMARANG- PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) serius menggarap Kredit Perumahan Rakyar (KPR) mikro bagi pekerja sektor informal. Langkah tersebut sekaligus mendukung program sejuta rumah yang digagas pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).




Direktur Konsumer BRI, Randi Anto mengatakan, desain pembiayaan perumahan mikro ini dilakukan dengan skema bergulir. Nasabah bisa mengambil pinjaman maksimal Rp50 juta dan tenor maksimal 5 tahun.




“Skema bergulir itu, setelah KPR selesai, kemudian bisa mengajukan lagi. Untuk tahap awal ini, sumber dana pembiayaan mikro perumahan menggunakan murni dana bank dengan mekanisme bunga pasar,” kata Randi, usai penandatanganan nota kesepahaman di Gedung Serbaguna Teknik Sipil Fakultas Teknik Undip Semarang.



Menurutnya, pembiayaan mikro perumahan ini diharapkan sesuai dengan karakteristik penghasilan masyarakat sektor informal yang kurang cocok diberikan kredit dalam jumlah besar dan dengan tenor yang panjang. Adapun untuk tahap awal ini, pembiayaan perumahan mikro ditargetkan mencapai 3.000 rumah yang tersebar di 16 provinsi.




“Jadi, KPR mikro ini utamanya untuk masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap, seperti wiraswasta kecil, buruh, pedagang, nelayan, petani dan lainnya,” ungkapnya.




Dijelaskan, mekanisme pengajuan KPR mikro ini masyarakat cukup mempunyai surat keterangan usaha dari RT atau Kelurahan/ Desa dan surat keterangan kepemilikan tanah yang akan dibangun rumah. Pengajuannya bisa melalui BRI unit, tidak harus di kantor cabang.




Sementara itu, Kementerian PUPR juga menggandeng tiga lembaga jasa keuangan (LJK) lainnya selain BRI, dalam penandatanganan nota kesepahaman untuk menyalurkan pembiayaan mikro perumahan bagi pekerja informal. Ketiganya yakni PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE), PT Pegadaian, dan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (YHKI).




Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti menuturkan, program pembiayaan perumahan mikro dimaksudkan untuk menyukseskan program sejuta rumah. Pasalnya, selama ini masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap masih sulit mengakses KPR dari bank, dikarenakan adanya risiko kredit yang dihadapi perbankan dalam memberikan pinjaman perumahan.




“Pemanfaatan pembiayaan mikro perumahan ini juga lebih fleksibel mulai dari pembelian kavling tanah, sertifikasi, bangun pagar, pondasi, konstruksi bangunan, perluasan rumah, perbaikan, sampai akhirnya rumah jadi layak huni,” pungkasnya.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here