Hiswana Migas Keluhkan Peredaran ‘Gas Putih’

0
280




SEMARANG- DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kota Semarang mengeluhkan marakny peredaran gas non elpiji Pertamina dalam tabung putih yang dijual bebas di masyarakat. ‘Gas Putih’ tersebut kini banyak digunakan pelanggan khusunya non subsidi.




Ketua DPC Hiswana Migas Kota Semarang, Yanuar N Rahman mengatakan, gas non elpiji Pertamina tersebut sudah beredar luas di Kota Semarang. Bahkan kini  peredarannya sudah mencapai 50% dari jumlah pelanggan elpiji non subsidi di Kota Semarang, khususnya sektor industri perhotelan dan rumah makan. 




“Yang terjadi adalah kebingungan masyarakat bahwa gas yang beredar ternyata bukan gas dari Pertamina, melainkan dari pihak lain yang tidak jelas asal-usul dan juga komposisinya,” katanya, saat ditemui di Kantor DPC Hiswana Migas Kota Semarang.




Menurutnya, komposisi dari elpiji resmi dari Pertamina 49% propan dan 51% butan c3h8 dan H10 dan kandungan lain dibawah 1%. Adapun gas di tabung putih yang saat ini marak beredar, tidak diketahui komposi pastinya. 




“Sumbernya patut diduga berasal dari kilang swasta dan juga patut diduga pula isi dari tabung putih adalah gas suntikan. Pasalnya, gas dari tabung putih memiliki bau khas elpiji resmi Pertamina,” ungkapnya.




Gas elpiji resmi dari Pertamina, lanjutnya, memiliki komposisi yang sudah diatur. Sedangkan gas tabung putih tidak jelas komposisinya, sehingga sangat membahayakan, karena tekanan gas bisa berubah-ubah setiap saat.




“Dari sisi harga, gas tabung putih non elpiji Pertamina dijual dengan harga yang tidak wajar karena jauh dari harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp8.000-Rp8.500 per kilogramnya. Adapun gas elpiji pertamina dijual dengan harga Rp11.000 per kilogram,” terangnya.




Yanuar mengingatkan kepada masyarakat supaya tidak terpengaruh dengan harga murah, tetapi tidak ada jaminan keamanan. 

Hiswana Migas pun akan segera melapor kepada Pemerintah daerah Kota Semarang terkait beredarnya gas tabung putih tersebut, karena pihaknya meyakini peredarannya tidak sesuai dengan prosedur yang ada.




Area Manager Communication & Relation Jawa Bagian Tengah, Andar Titi Lestari menyatakan, gas yang dikemas dalam tabung putih bukan dari Pertamina. Ia pun mengaku tidak mengetahui asal-usul gas tersebut bisa beredar bebas. 




“Kami mengajak masyarakat cerdas memilih produk yang terjamin keamanannya. Agen resmi Pertamina memiliki peraturan dan juga patokan harga dalam menjual elpiji, karena produk pertamina mengutamakan safety, berat isi, kualitas tabung dan segalanya yang berkaitan dengan keamanan,”katanya. 




Andar pun mengingatkan, kepada anggota Hiswana Migas untuk tidak menjual gas diluar dari produk Pertamina. Jika ketahuan melakukan penjualan produk diluar produk Pertamina maka sanksinya adalah pemutusan hubungan usaha. 




Sementara itu, Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K), Ngargono mengaku, sejauh ini belum mendapatkan laporan dari konsumen apakah dirugikan atau tidak. Hanya saja ia menyampaikan, sesuai dengan UU Nomer 8 terkait perlindungan konsumen, produsen harus mencantumkan isi dan juga keamanannya. 




“Yang terpenting adalah keamanan. Kalau memang dari segi keamanan tidak ada jaminan sudah selayaknya ditinggalkan,” tegasnya.




Pihaknya pun mendorong, kepada pemerintah untuk bertindak untuk melakukan pengecekan kepada penjual gas tabung putih, apakah sudah memiliki perizinan atau tidak karena untuk bisa menjual gas harus memiliki izin yang tentunya berbeda dengan perizinan lainnya karena menyangkut keamanan. 




“Pemerintah harus turun tangan, jangan sampai masyarakat mengabaikan keamanan demi mendapatkan harga murah. Dan supaya menimbulkan persaingan sehat pemerintah harus memberlakukan perturan yang sama,” tandasnya.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here