PLN Dukung Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

SEMARANG- PLN turut mendukung penggunaan Energi Baru dan Terbarukan sebagai substitusi energi fosil untuk pembangkit listrik di Indonesia. Dukungan tersebut disampaikan Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN, Amir Rosidin, saat menjadi keynote speaker dalam acara Focus Group Discussion bertajuk “Identifikasi Keekonomian dan Arah Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada. Forum ini diselenggarakan di Hotel Aston, Semarang.

Dalam paparannya, Amir menjelaskan mengenai kondisi umum pembangkit listrik di Indonesia. Saat ini jumlah pembangkit listrik EBT masih sangat sedikit ketimbang pembangkit dengan tenaga fosil.

“Total keseluruhan pembangkit EBT di Indonesia berjumlah 12,3% yang terdiri dari PLTA sebesar 4010 MW (8%), PLTP sebesar 1774 MW (3%), PLTM sebesar 381 MW (1%), dan PLTS (0,3%),” terang Amir.

Dr. Tumiran dari Dinas Energi Nasional menjelaskan dalam pembukaannya, latar belakang pengembangan EBT adalah banyaknya permintaan akan energi, kendati demikian, mayoritas energi yang banyak dipasok saat ini adalah energi yang bersumber dari bahan bakar fosil (minyak, batubara, dan gas). Akan tetapi, energi fosil lama kelamaan akan habis.

“Oleh karena itu penggunaan energi alternatif disebut sebut sebagai jalan keluar krisis energi ini. Energi Baru dan Terbarukan diharapkan menjadi salah satu opsi yang bisa dikembangkan untuk menggantikan peran energi fosil,” ujar Tumiran.

Dari sisi PLN sendiri, Amir memberikan dukungan positif terkait pengembangan tersebut. Namun ia menekankan, sebelum merealisasikan pembangkit listrik EBT, ada beberapa hal yang menjadi tantangan, misalnya; BPP di beberapa wilayah sudah relatif rendah.

“Beberapa daerah install capacity kecil, sehingga EBT intermittent seperti PLTS dan PLTB mendapat kuota MW kecil,” lanjut Amir.

Namun disamping tantangan tersebut, terdapat juga peluang, seperti; bauran EBT ditargetkan mencapai 23% di tahun 2025, rasio elektrifikasi di Indonesia bagian timur masih sangat rendah (Nusa Tenggara 55,1%, Papua 43,8%, dan Sulawesi Barat 69%), dan cadangan sumber energy baru melimpah di beberapa daerah.

“Sejalan dengan rencana pengembangan EBT, PLN siap menerima sumber listrik dari EBT dengan tetap memperhatikan keekonomian dan kesiapan sistem,” tutup Amir.(aln)