Carica, ‘Butiran Emas’ dari Lereng Dieng

0
125

– MENGEMAS CARICA- Sejumlah pekerja di Yuasa Food tengah mengemas olahan buah carica dalam bentuk koktail dan sirup, di Rumah Produksi Yuasa Food, yang berada di Kampung Sikenduren, Desa Krasak, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. FOTO : ANING KARINDRA

BERKUNJUNG ke Kabupaten Wonosobo, tak lengkap rasanya jika tak membawa buah tangan Carica dan turunannya. Buah unik spesies dari Pepaya ini hanya ada di Lereng Dieng, dan bisa diperoleh dalam bentuk mentah untuk diolah sendiri, ataupun matang, dalam bentuk sirup dan koktail.

Tak sedikit warga di sekitar lereng Dieng yang kini bergelut dengan buah Carica sebagai mata pencahariannya, yang telah terintegrasi mulai dari hulu hingga hilirnya. Bak butiran emas, Carica pun kini menjadi komoditas unggulan warga lereng Dieng yang mampu memberikan kontribusi signifikan pada PAD Wonosobo.

Kali ini, saya berkesempatan mengintip langsung proses produksi Carica di salah satu Rumah Produksi, Yuasa Food, yang berada di Kampung Sikenduren, Desa Krasak, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Dalam sehari, Yuasa Food mampu mengolah 400-500 kilogram butiran carica.

Owner Yuasa Food, Trisila Juwantara mengatakan, kelangkaan dan keunikan buah carica menjadi potensi bisnis yang menjanjikan bagi warga di Wonosobo. Apalagi, keberadaan buah ini menjadi satu-satunya di Indonesia, yang hanya bisa tumbuh dan berkembang di lereng Dieng.

“Sekarang banyak warga di sekitaran Dieng yang mulai beralih bisnis carica, mulai dari petani hingga produksi pengolahan,” katanya.

Trisila yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Karika ini mencatat, pertumbuhan UKM Carica belakangan ini sangat pesat. Dari yang semula hanya 8 UKM pada tahun 2001, kini sudah mencapai 300 UKM.

“Makin banyaknya pelaku usaha carica, tentu saja makin banyak masyarakat yang terlibat. Ini sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat dan menekan pengangguran,” ujarnya.

Khusus di KSU Kartika saja, lanjut Trisila, kini ada 114 anggota yang terdiri dari 55 petani, 30 pelaku usaha pengolahan, dan selebihnya guide, pemasar, PPL. Adapun produksi olahan carica per bulan bisa mencapai 45 ton atau sekira 2,5 kontainer yang sudah terserap di pasar lokal.

“Itu baru hasil produksi dari KSU Karika saja, belum termasuk UKM lain yang belum terdaftar dan yang berasal dari luar koperasi kami yang serapannya bisa mencapai 200-250 ton per bulan,” ujarnya.

Terkait pemasaran, produk olahan carica kini pun makin meluas, dan telah menembus pasar ekspor. Setidaknya carica Wonosobo telah masuk ke pasar Thailand, Jerman, dan Paris.

“Tahun 2016 produk olahan carica anggota koperasi dikirim ke Thailand 1 kontainer, dan tahun 2017 kami pasarkan ke Paris dan Jerman melalui pameran-pameran. Ekspor dalam bentuk frozen dan semi produk, karena di negara tujuan nanti diolah dan kemas ulang,” ucapnya.

Sedangkan untuk pasar dalam negeri, Trisila mengaku, lebih menyasar pasar toko oleh-oleh di berbagai penjuru kota di Indonesia. Bahkan, harapannya tahun depan sudah ada outlet khusus produk carica di seluruh pelabuhan, bandara, dan stasiun di Indonesia.

“Dengan pasar yang makin luas, dari sisi omset, usaha olahan carica di Wonosobo saat ini sudah mencapai miliaran rupiah. Bahkan, khusus di Yuasa Food sendiri sekitar Rp3 miliar per tahun,” terangnya.

Lebih lanjut Trisila menuturkan, olahan carica yang paling laris di pasaran untuk jenis koktail tang dikemas dalam gelas plastik maupun kaca. Selain itu juga sirup, jus, jeli, dodol, serta puding.

“Harga produknya untul koktail mulai Rp3.500 per gelas. Tapi biasanya kami menjualnya dalam bentuk paketan kardus atau plastik dengan isi lebih banyak, dengan daya tahan antara 1-2 tahun,” tuturnya.

Sementara, dukungan pemerintah terhadap pelaku usaha carica di Wonosobo pun cukup tinggi. Pemerintah provinsi melalui Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah bahkan telah berupaya mewadahi usaha tersebut melalui koperasi, serta memfasilitasi pelatihan tentang kewirausahaan yang baik, hingga bantuan peralatan.

“Tak hanya itu, pemerintah juga turut membukakan pasar melalui pameran produk UMKM baik di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Ema Rachmawati, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah.

Ema pun mendorong agar para pelaku usaha carica ini saling bersinergi dalam wadah koperasi, agar berkembang bersama secara sehat. Hal tersebut juga terkait dengan kualitas produk yang tetap terjaga.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here