LG, Siap luncurkan SCAC

0
62

JAKARTA – Menyandang gelar pemimpin pada pasar AC inverter bagi kebutuhan hunian di Indonesia dengan raihan 58.8% pangsa pasar, PT. LG Electronics Indonesia (LG)justru tampak semakin agresif. Hal ini dilakukan dengan memperkenalkan AC terbaru sebagai solusi bagi hunian besar dan ruang usaha yang termasuk dalam kategori Single Commercial Air Conditioning (SCAC).

Dua produk diperkenalkan LG dalam kategori Floor Standing &Ceiling Cassette Dengan pengembangan berbasis teknologi inverter di dalamnya, produk ini dimaksudkan hadir sebagai alternatif pendingin ruangan lebih hemat listrik yang mengisi ceruk kebutuhan pendingin ruangan antara hunian dan gedung.

Tak sekedar bersandar pada klaim hemat listrik, LG bahkan melakukan pengujian tingkat konsumsi listrik di lembaga Electric Power and Energy Studies (EPES) pada Universitas Indonesia. “Bersanding dengan pengujian internal, langkah ini merupakan bagian upaya kami dalam memperkuat tingkat kepercayaan masyarakat akan manfaat AC berteknologi inverter pada hematnya tagihan listrik,” ujar Seungmin Park, President Director LG Electronics Indonesia

Lebih lanjut ia menyatakan, hal ini sesuai dengan dukungan LG terkait program pemerintah Indonesia pada kampanye hemat listrik.“Semakin tingginya tingkat kepercayaan masyarakat akan teknologi inverter, semakin mempercepat beralih pada gaya hidup hemat energi,” ujar Jack Kim, Air Conditioning Business Leader LG Electronic Indonesia

Dalam hal jumlah unit pada tiap perangkatnya, seperti pula AC bagi kebutuhan hunian, kategori Single Commercial Air Conditioning (SCAC) tetap mengandalkan satu unit indoor dan satu unit outdoor. Namun demikian, AC kategori ini memiliki varian kapasitas pendinginan lebih besar yaitu 4PK dan 5PK. Faktor inilah yang membuatnya dikatakan menjadi solusi tepat bagi hunian besar hingga ruang usaha pada kategori Small Office Home Office.

Hal ini bila melihat pemenuhan AC bagi kedua jenis kebutuhan tersebut saat ini masih lebih mengandalkan penggunaan AC bagi peruntukan rumah tangga. Dengan kuat pendinginan kecil, pada pengaplikasiannya membutuhkan beberapa unit AC rumah tangga untuk mendinginkan ruangan yang lebih luas. Disamping kesulitan instalasi dan tata letak sebagai konsekuensi banyaknya unit AC yang digunakan, hal ini juga berpengaruh pada estetika ruang secara keseluruhan.

Pertimbangan estetika inilah yang membuat LG menyediakan dua terapan desain. Desain cassette yang berbentuk persegi dengan empat arah keluaran udara yang peletakkannya menempel pada langit-langit bangunan, tersedia dalam kapasitas pendinginan 4Pk. Pilihan lainnya ada pada model floor standing yang berkekuatan 5PK. Berbentuk persegi memanjang vertikal, sesuai namanya, model ini peletakannya berdiri di lantai bangunan. “Dengan jumlah keseluruhan perangkat yang sama namun memiliki kapasitas pendinginan besar, memberi keuntungan pada kemudahan instalasi serta menjaga estetika ruangan,” ujar Dr. Hardian Reza Dharmayanda, Air Solution Engineering Team Leader LG Electronic Indonesia
Proses pengujian AC pada Electric Power and Energy Study (EPES) di Universitas Indonesia ini sendiri dilakukan sepanjang 2 bulan yang melibatkan dua model Single Commercial Air Conditioning LG tipe ceiling cassette dan floor standing yang masing-masing memiliki kuat pendinginan 4PK dan 5PK menjadi subjeknya. Dua pengaturan suhu ditetapkan, 18°C dan 24°C, mewakili dua kutub temperatur yang biasa dimanfaatkan dalam pemakaian AC.

Menambah kejelian dalam hasil, periset EPES-UI membagi tiap kondisi temperatur ini ke dalam tiga beban pendinginan. Hal ini dibuat untuk semakin mendekati gambaran penggunaan nyata dengan perubahan kondisi suhu lingkungan sekitar sepanjang hari. Pengukuran beban pendinginan 20% mewakili suhu sekitar cenderung sejuk seperti di malam hari, 50% saat cuaca normal cenderung panas hingga beban pendinginan 100% yang mewakili saat AC bekerja pada cuaca terik.

“Dari berbagai pengujian inilah kami mendapatkan hasil Single Commercial Air Conditioning LG dengan kompresor inverter mampu menekan penggunaan listrik secara signifikan dibanding produk sejenis tanpa teknologi inverter,” ujar Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa– Head Of Electrical Power And Energy Studies – University of Indonesia (EPES-UI). Lebih dalam terkait hasil uji tersebut, ia menyatakan, produk Single Commercial AC LG tipe floor standing memiliki tingkat penghematan listrik hingga 62% dan tipe ceiling cassette penghematan listriknya hingga 50%.

Bicara mengenai uji tingkat konsumsi listrik yang dilakukannya ini, Jack Kim menyatakan, hal ini merupakan bagian upaya LG dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi inverter pada AC. Beragam komunikasi hemat listrik yang lebih pada bahasa pemasaran dari berbagai pabrikan, menurutnya, disatu sisi menjadi hambatan masyarakat untuk memilih beralih ke pendingin udara berteknologi inverter.

Pilihan Universitas Indonesia sendiri terkait dengan reputasi lembaga akademis ini yang dibangun sejalan dengan visinya sebagai universitas riset. Hasil pengujian dari pihak independen dengan reputasi besar inilah yang menurutnya akan semakin menguatkan kepercayaan publik dengan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan terkait tingkat konsumsi. “Dengan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, memastikan masyarakat mendapatkan seluruh hak yang dijanjikan. Bukan lagi sebatas klaim,” ujar Pramu Baskoro – Air Solution Channel Team Leader LG Electronics Indonesia.

Melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan ini pula, menurutnya lagi, pada gilirannya akan berpengaruh pada tingkat kepuasan penggunaan.

”Tak hanya menyediakan produk, namun memberi informasi yang bertanggungjawab pada publik terkait tiap klaim dalam produk menjadi upaya kami dalam mendukung pemerintah dalam menggerakkan gaya hidup hemat energi,” tutup Seungmin Park.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.