Bantuan Modal dan Pameran Menjadikan Agus Sukses Tembus Pasar Ekspor

– SUKSES- Agus Winarno (42), pelaku UKM mitra binaan Pertamina yang sukses menembus pasar ekspor dari produk kerajinan dan komponen olahan kayu. FOTO : ANING KARINDRA


“..Selain modal, beberapa kali produk saya diikutsertakan Pertamina dalam pameran, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Moment inilah yang sangat membantu mendongkrak popularitas produk seni kerajinan kayu saya, hingga dikenal pasaran hingga bisa menembus ekspor..”

AGUS Winarno (42) tak pernah menyangka, bisnis furniture and art yang digelutinya sejak tahun 2010 terus berbuah hasil. Dari usaha rumahan yang dirintisnya di Perumahan Jatisari Lestari Blok A5/12, kini produk seni dan olahan kayu tersebut telah menembus pasar ekspor hingga ke Asia, Eropa dan Amerika.


Pria kelahiran Purwodadi ini berkisah, dengan modal yang pas-pasan, semula ia hanya memproduksi seni kerajinan berupa mangkok kayu, nampan, tempat tisu, tempat lampu, dan kreasi lainnya. Namun, demi mengikuti tren dan permintaan pasar, kini produk yang dihasilkannya pun terus berkembang.


Dibawah bendera CV Narisa Alam Lestari, suami dari Farida Zulva (41) tak sekedar memproduksi kerajinan kayu saja, tapi mulai menggarap wood working atau produk komponen kayu sebagai inovasi produk yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan pasar.


“Sejak 3 tahun terakhir ini permintaan paling banyak justru pada wood working, khususnya untuk memenuhi pasar ekspor ke Amerika,” kata ayah dari Faradina Ilma (15) dan Audia Kaisha (8).


Lulusan Filsafat Islam IAIN Walisongo Semarang ini menuturkan, seni kerajinan kayu kini hanya memberikan kontribusi 20% dari usahanya, dan selebihnya merupakan produk wood working. Sedangkan penyerapan produk ke pasar ekspor pun sudah mencapai 70%, jauh lebih tinggi ketimbang pasar lokal.


“Kalau untuk lokal, penjualan terbesar pada produk kerajinan yang dipasarkan lewat pameran-pameran,” ujar Agus, yang kini justru mulai kewalahan memenuhi permintaan ekspor untuk produk komponen kayu.


Agus menuturkan, setiap bulan ia rata-rata bisa mengirim 2 kontainer produk untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Produk tersebut digarap dengan memberdayakan puluhan masyarakat di sekitar Boja, Kendal, dan Manyaran, Semarang, yang kini menjadi 2 titik lokasi workshopnya.


“Untuk kerajinan kayu sekarang digarap di Boja dan wood working di Manyaran. Ada sekitar 50 orang yang membantu produksi,” jelas Agus saat ditemui di workshopnya di Manyaran.


Mitra Binaan Pertamina


Dibalik usahanya yang terus merangkak naik, Agus pun tak memungkiri jika banyak pihak yang turut berperan. Salah satunya, dukungan dari institusi pemerintahan, seperti Pertamina.


“Mulai tahun 2013 saya menjadi salah satu UKM yang masuk dalam program kemitraan PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan DIY,” ungkapnya. 


Selama menjadi mitra binaan Pertamina, Agus sudah 2 kali mendapatkan pinjaman. Pada pinjaman yang pertama kala itu memperoleh Rp20 juta, sedangkan pada pinjaman kedua memperoleh Rp40 juta.


“Saya sudah 2 kali mendapatkan bantuan modal pinjaman dari Pertamina dan sangat membantu untuk menambah permodalan usaha,” terang Agus yang mengaku omzetnya kini telah menembus ratusan juta rupiah.


Agus mengatakan, ada beberapa keuntungan yang diperolehnya ketika menjadi UKM mitra Pertamina, salah satunya adalah berhak atas bunga kredit 3 persen/tahun. Bunga ini sangat rendah sehingga sangat meringankan bagi pelaku usaha.


Tak hanya itu, sebagai UKM mitra binaan Pertamina, Agus pun kerapkali dilibatkan dalam ajang pameran yang digelar di sejumlah daerah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Moment tersebut justru sangat membantu dalam mempromosikan produk-produknya agar dapat dikenal lebih luas.


“Selain modal, beberapa kali produk saya diikutsertakan Pertamina dalam pameran, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Moment inilah yang sangat membantu mendongkrak popularitas produk seni kerajinan kayu saya, hingga dikenal pasaran hingga bisa menembus ekspor,” tegasnya.


Ditemui terpisah, Unit Manager Communication & CSR MOR IV PT Pertamina (Persero), Andar Titi Lestari mengatakan, sebagai BUMN, Pertamina memiliki tanggung jawab untuk menjalankan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Sejak tahun 1993 hingga kini ada 7.973 mitra binaan Pertamina di wilayah Jateng-DIY, dimana 45% berasal dari sektor perdagangan. 


“Untuk program kemitraan ini memang menyasar UKM, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri, mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional,” terangnya.


Menurut Andar, dalam program kemitraan, UKM bisa mengajukan pinjaman mulai dari Rp15 juta sampai Rp200 juta. Selain bantuan dana untuk permodalan, akan banyak benefit yang bisa diperoleh selama menjadi mitra binaan, mulai dari dilibatkan dalam pelatihan, pendampingan usaha, dan diikutsertakan dalam ajang pameran, baik skala nasional maupun internasional.


“Untuk menjadi mitra binaan Pertamina syaratnya sangat mudah. Dan pada tahun 2019 ini, kami mentargetkan penyaluran dana kemitraan hingga mencapai Rp18 miliar,” tandasnya.(aln)