Kuota FLPP Habis, Pengembang Mengeluh

– KOMISARIAT REI SEMARANG- Ketua DPD REI Jateng, MR Prijanto, melantik kepengurusan Komisariat REI Semarang, sekaligus peresmian Peresmian Kantor Komisariat REI Semarang, di Sambiroto Semarang. FOTO : ANING KARINDRA



SEMARANG- Para pengembang perumahan subsidi mengeluhkan habisnya kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di tahun 2019. Kondisi tersebut membuat banyak pengembang rumah murah kesulitan merealisasikan penjualan rumahnya. 


Ketua Komisariat REI Semarang, Ahmad Arifin mengatakan, sudah habisnya kuota kredit untuk rumah bersubsidi itu, membuat para pengembang semakin tertekan. Hal tersebut juga berdampak pada kredibilitas pengembang di mata perbankan maupun calon pembeli.


“Tak hanya itu, sejumlah pengembang rumah subsidi juga sudah terlanjur membangun rumah yang cukup banyak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” katanya, disela Peresmian Kantor Komisariat REI Semarang, di Sambiroto Semarang.


Menurutnya, pemerintah perlu memperhatikan dan mendengarkan masukan dari pengembang rumah sederhana terkait dengan penambahan kuota kredit rumah FLPP. Terlebih lagi, sisa waktu 2019 hanya tinggal empat bulan dan akan sulit merealisasikan penjualan unit rumah.


“Kita semua anggota REI sudah membangun sedemikian banyak rumah sederhana, tapi ternyata kuota kreditnya habis. Oleh karena itu, karena tidak ada kepastian kapan ada kuota tambahan, kita harus mencari solusi,” ungkapnya.


Ahmad Arifin menjelaskan, meski ada Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabung (BP2BT), tetapi belum bisa dirasakan langsung bagi para pengembang. Sebab, dana BP2BT dari Bank Dunia itu masih ada di Satuan Kerja (Satker), sehingga sulit dalam pencairannya.


“BP2BT yang sulit untuk direalisasikan itu hampir sama dengan pemberian bantuan uang muka dari pemerintah beberapa waktu lalu. Saat itu, pemerintah memberi bantuan uang muka sebesar Rp4 juta per unit rumah sederhana. Namun, kenyataan di lapangan sulit dalam proses pencairan,” jelasnya.


Ditambahkan, solusi yang bisa dilakukan pengembang yang sudah terlanjur membangun rumah sederhana, menjual rumah FLPP tapi tidak pakai program pembiayaan kredit. 


“Teman-teman bisa memakai kredit komersial dengan harga di bawah Rp140 juta, tapi PPh-nya tidak sampai 10 persen. Bisa nol persen PPh-nya,” pungkasnya.(aln)