Berbagi Cerita Terpapar Covid-19

Semarang, 22 Februari 2021

Bismillah…. Sedikit berbagi cerita pengalaman saya kena covid :

“Sekuat apapun kita bertahan, semua cuma kembali ke takdir Allah. Jangan lupakan Allah di setiap kesempatan”

Aning Karindra (Alin), Semarang

SAYA termasuk orang yang sangat parno. Sejak setahun pandemi, saya bisa dibilang sangat over protektif. Karena saya juga sadar, saya memiliki komorbid gula, asma dan asam lambung.

Saya, suami dan anak2 banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan, untuk bekerja pun selama setahun terakhir dikerjakan dari rumah. Keluar rumah benar2 hanya urusan yang sangat penting.

Aktifitas keluar rumah bersama keluarga pun hanya sekedar muter2 lihat suasana kota, melihat kereta api melintas di perlintasan, untuk menghilangkan jenuh. Saya dan anak2 bahkan tidak pernah turun dari mobil, apalagi ngemall, makan di luar, karena kita tak ingin buka masker di luar. Untuk membuang bosan, kadang tidur di rumah Greenwood, kadang di rumah Karangayu.

Adapun untuk urusan belanja, suami yang seringkali turun dari mobil, saya dan anak2 tetap berada di dalam mobil. Benar2 sangat over protkes 5M. Bahkan, temen2 dan keluarga menganggap saya sudah terganggu jiwanya karena ketakukan yang berlebih.

Hingga pada suatu waktu di akhir Januari 2021, suami saya batuk pilek menggigil selama 2 hari. Diobatin sendiri dan sembuh sendiri di hari ke 4.

Selang beberapa hari anak saya yang kecil, demam sehari. Diberi pijatan bawang, dan langsung sehari sembuh. Anak saya yang besar, memang sudah hampir 3 mingguan sebelumnya tiap bangun tidur bersin2. Dan saya pikir itu karena alergi dingin dari AC.

Oh ya, saat itu saya tengah menginap di rumah Karangayu, yang notabene di sekitarnya ada rumah kakek nenek, adik suami, dan kos2an. Tapi, di Karangayu pun kami tetap hanya di dalam rumah. Hanya saja interaksi orang bertambah dengan neneknya yang keluar masuk rumah yang saya tinggali di Karangayu.

Setelah anak saya yang kecil demam, nenek sempat mengeluh tidak enak badan, penciuman sempat hilang sehari. Tapi hari berikutnya sudah sehat kembali.

Lantas 3 hari berikutnya, 2 Februari 2021 giliran saya gak enak badan. Badan ngilu nggreges (suhu normal tidak demam), hidung tersumbat, tenggorokan panas sekali (tapi tidak merah), pusing menusuk di sekitar mata dan kening. Saya obatin sendiri dengan obat2an yang ada.

Sampai di hari ketiga, 4 Februari 2021, akhirnya saya periksa ke dokter langganan. Dikasih obat batuk, antibiotik, dan obat magh, yang selanjutnya saya konsumsi. Saya pun tetap di rumah saja. Keluar sekali hanya terapi pijat saraf kejepit, itupun kondisi tempat pijatan sepi, dan tetap protkes.

Pada hari ke6 mriang, Minggu, 7 Februari 2021, tiba2 saya merasa ngos2an tiap aktifitas. Penciuman dan rasa mendadak hilang. Gejala yang masih terasa tenggorokan panas. Saya berinisiatif untuk swab mandiri. Swab antigen di klinik bareng suami. Dan hasilnya, saya POSITIF, suami NEGATIF.

Malem itu, dalam suasana masih bingung, belum berani pulang rumah… Lemas, lunglai.. terbayang bagaimana saya harus melawan virus ini, apa saya kuat, hingga bayangan kematian. Belum lagi gambaran anak2… Saya pun merisaukan anak2 yang sebelumnya selalu bersama.. bagaimana kalau mereka terpapar..

Saya hubungi ortu saya di Purwokerto untuk mencari solusi. Mertua pun saya hubungi untuk segera mensterilkan rumah Karangayu, mengambil kebutuhan anak2 untuk diungsikan di rumah mertua. Saat itu saya hanya berpikir akan isolasi mandiri di rumah.

Malam itu pun saya pulang dan mengisolasi diri di rumah. Ortu menghubungi beberapa sodara di Semarang yang cukup punya pengaruh untuk menghubungi pihak dinkes. Malam itu juga saya dihubungi Dinkes dan Kepala Puskesmas Karangayu untuk pengecekan kondisi dan pendataan, arahan, serta rencana tracing.

Isolasi Mandiri di Rumah

Senin, 8 Februari 2021, bertepatan dengan ultah anakku Danish yang ke-8. Pagi itu pihak puskesmas datang ke rumah, melakukan tracing, anak2 dan nenek dilakukan swab antigen. Alhamdulillah… Mereka semua NEGATIF…. Beban pikiran saya sedikit berkurang.

Melihat kondisi saya saat itu yang masih terlihat stabil, pihak puskesmas memperbolehkan saya isolasi mandiri. Mereka melihat dari sisi kelayakan lokasi isolasi mandiri (di rumah terpisah dari anggota keluarga lain), dan peralatan2 medis yang ada (oxygen, oxymeter, termometer, tensimeter, dll). Saat itu, gejala yang saya rasakan sudah banyak berkurang. Penciuman dan perasa mulai muncul sedikit.. Saya dibekali obat dari Puskesmas dan selama isolasi mandiri, setiap hari petugas PKM datang mengecek kondisi saya.

Rabu, 10 Februari (hari ketiga isolasi mandiri di rumah)…. Indra perasa dan penciuman sudah pulih. Tapi masih terasa ngos-ngosan, dada terasa dingin dan clekit2 hilang timbul seperti disayat sayat. Saya infokan ke beberapa sodara yang aktif memantau kondisi saya.

Saat itu juga saya didesak untuk ke rumah sakit, melakukan perawatan di rumah sakit agar segera tertangani dan terpantau medis. Ini juga karena melihat faktor komorbid saya.

Awalnya saya masih menolak… Gambaran suasana ngeri di ruang isolasi rumah sakit menjadi alasan. Namun desakan demi desakan terus dilakukan keluarga, yang membuat saya justru down dan akhirnya menyerah.

Sodara pun sudah menghubungi dokter dan direktur rumah sakit Tugurejo Semarang yang akan menangani saya dan menyiapkan kamar untuk saya. Saya disuruh siapkan kebutuhan selama di rumah sakit.

Saya menolak dijemput ambulance. Suami pun diperbolehkan mengantar, dengan syarat saya duduk di belakang, AC dimatikan dan semua kaca dibuka sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Tiba di UGD RS Tugurejo Semarang sekitar jam 20.00 WIB. Saya turun sendiri dengan membawa beberapa tas. Suami menunggu di luar. Petugas langsung menangani saya, memasang infus, memberikan obat, dan melakukan rontgen. Baru sekitar pukul 22.00 WIB saya dibawa ambulance dari IGD ke Ruang Isolasi Amarilis yang lokasinya berada di paling belakang. Gedung 3 lantai itu berada di depan kamar jenasah.

Berpisah dengan suami di ruang UGD

Sebelum menuju ruang isolasi, drama perpisahan dengan suami pun terjadi. Bagaimana tidak? Petugas sempet berkata ….’ada yang mau disampaikan sama keluarga, karena di ruang isolasi dah gak bisa ketemu keluarga lagi’…. Rasanya seperti akan memasuki lorong yang entah akan membuat kita kembali atau tidak.

Pantauan CCTV kamar yang dikirim dokter ke pihak keluarga

Perawatan 9 Hari di Ruang Isolasi

Masuk rumah sakit, di ruang isolasi covid bener2 berasa tak berarti lagi diri ini… Di ruang sendirian, apa2 harus bisa dilakukan sendiri… Urusan makan, ke toilet, dll… Bahkan pengalaman saya, untuk ganti infus pun sendiri..

Perawat cuma masuk di jam yang terjadwal. Pake APD lengkap jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 sore. Mereka dateng cuma seperlunya, kasih obat, suntikan, cek air oxygen, kasih makan. Di luar jadwal itu, perawat gak bisa masuk.

Semua dipantau pakai CCTV. Komunikasi kita klo ada keluhan dll pake interkom aja. Dokter pun visit gak selalu masuk ruangan. Cukup lewat interkom sambil liat kondisi dari CCTV. Selama saya dirawat, hanya 1 kali dokter spesialis paru-paru masuk ruangan, dan 2 kali dokter spesialis penyakit dalam masuk ke ruangan. Dengan APD lengkap.

Petugas kebersihan dengan APD lengkap rutin membersihkan kamar pasien isolasi

Suasana bener2 ngeri… Kebetulan saya dapat sekamar sendiri. Itu pun kalau denger tetangga kamar kritis dan harus dibawa ke ICU rasanya di dada nyesek.. Perasaan campur aduk…

Kamis, 11 Februari 2021, hari ke1 isolasi, saya dilakukan swab PCR ke1, cek darah lengkap, cek jantung. Keluhan masih seputar dada dingin, rasa tersayat di dada yang hilang timbul, dan sesekali batuk. Hasil rontgen ada peradangan di paru, proses ke pembekuan darah. Gula darah dan tensi tinggi. Penanganan obat anti virus lewat infus, obat magh dan vitamin lewat infus, suntik perut untuk pengenceran darah, obat2an minum seperti vitamin, obat magh, obat gula, obat tensi, vitamin, zinc.

Suasana ruang kamar

Jumat, 12 Februari 2021, hasil swab PCR ke1 NEGATIF.

Sabtu, 13 Februari 2021, hari ke3 isolasi di rumah sakit, dilakukan swab PCR ke2. Keluhan masih seputar dada dingin, rasa tersayat di dada yang hilang timbul, dan sesekali batuk.

Minggu, 14 Februari 2021, hasil swab PCR ke2 POSITIF lagi.

Senin, 15 Februari 2021, hari ke5 di rumah sakit.. mual, muntah, sembelit, asam lambung naik, dada nyesek, batuk sesekali.

Video call bersama sahabat untuk motivasi

Kamis, 18 Februari 2021, hari ke8 di rumah sakit dilakukan swab PCR ke3 dan rontgen ke2. Keluhan masih seputar dada dingin, rasa tersayat di dada yang hilang timbul, dan sesekali batuk.

Jumat, 19 Februari 2021, hari ke9 isolasi di rumah sakit dan boleh pulang. Dengan hasil swab ke3 NEGATIF. Hanya saja hasil rontgen masih ada perluasan peradangan paru yang tipis. Disarankan untuk tetap melakukan isolasi mandiri di rumah, rawat jalan dan peningkatan imun.

Aktifitas di Rumah Sakit

Selama di ruang isolasi rumah sakit, saya menghindari nonton brita tv. Pantang buka google, apalagi mencari2 informasi soal covid. Bahkan medsos seperti instagram dan facebook, hampir tak pernah saya buka. Grup2 WA yang banyak berisi info yang bikin down saya bisukan semua. Saya hanya membalas WA yg memotivasi dan mendoakan saya. Telpon dan video call sama ortu, anak2, suami dan sahabat2.

Oh ya.. sedari awal terpapar covid, saya memang terbuka dengan kondisi saya. Saya bahkan menginfokan kepada teman2, relasi yang dekat, dan sodara2 saya. Dengan terbuka ini, cukup mengurangi beban. Apalagi, dengan begitu, doa, dukungan dan perhatian jadi terus mengalir, yang tentu menumbuhkan semangat dan mampu meningkatkan imun kita.

Untuk menghindari pikiran negatif dan terus meningkatkan imun, aktifitas saya selama isolasi si rumah sakit, selain perbanyak doa dan ibadah juga membuka buka aplikasi Shopee dan Tokopedia. Mengisi keranjang belanjaan, dan melakukan check out beberapa belanjaan. Hihihii…. Lumayan meningkatkan imun. Yang di rumah sampai heran, hampir tiap hari ada paketan datang. Meski lebih banyak buat anak-anak.

Kesempatan Hidup Kedua

Dinyatakan NEGATIF dan sembuh dari covid bagi pasien bergejala dan komorbid itu bagaikan mendapatkan KESEMPATAN HIDUP KEDUA. Karena kita tau, covid blom ada obatnya..

Dan saat ini, 22 Februari 2021, saya masih menjalani isolasi mandiri hari ke3 di rumah. Masih sendirian di rumah, dengan bekal obat rawat jalan, diselingi olahraga ringan, dan berjemur jika ada matahari. Makan bergizi dan teratur, berharap masa-masa post covid segera berlalu, paru2 kembali normal, dan bisa menjalani aktifitas normal lagi… Aamiin Ya Allah

Dengan isolasi di rumah, bisa melihat aktifitas anak2 meski terbatas sekat dan jarak. Setidaknya mampu memberikan semangat buat diri ini.

Ditemani anak-anak dari balik jendela bisa jadi imun booster selama isolasi mandiri

Semoga pandemi segera berlalu, kita semua diberi kekuatan untuk melewatinya, dan kita bisa semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Temen2… Sodara2ku…. Sehat sehat selalu yaaaa…. jaga diri sendiri dan jaga keluarga… Tetap terapkan protokol kesehatan 5M + perbanyak doa. Sekuat apapun kita bertahan, semua cuma kembali ke takdir Allah. Jangan lupakan Allah di setiap kesempatan…()*