SEMARANG – Penugasan penyerapan gabah dan beras Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah pada 2026 naik 32 persen dibandingkan tahun lalu. Bulog Jateng tahun ini ditargetkan menyerap 374.658 ton setara beras dari 25 kabupaten/kota wilayah kerjanya.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati menyampaikan, penugasan tersebut merupakan bagian dari target nasional penyerapan gabah dan beras sebesar 4 juta ton setara beras. Peningkatan target di Jawa Tengah dinilai strategis mengingat provinsi ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
“Target penyerapan di Jawa Tengah pada 2026 meningkat sekitar 32 persen atau setara 90.956 ton dibandingkan target tahun 2025,” kata Sri Muniati.
Kenaikan target tersebut menegaskan peran Bulog dalam menjaga keberlanjutan swasembada beras. Penyerapan dilakukan untuk melindungi harga gabah di tingkat petani sekaligus menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
“Penugasan ini merupakan bentuk kehadiran negara agar hasil panen petani terserap dengan baik dan pasokan pangan tetap aman,” ujar Sri Muniati.
Selain gabah dan beras, Bulog Jateng juga mendapat mandat penyerapan jagung. Dari target nasional sebesar 1 juta ton, Jawa Tengah dibebani target penyerapan jagung sebanyak 70.000 ton.
“Untuk penyerapan jagung, kami memperkuat koordinasi dengan TNI/Polri, pemerintah daerah, dan penyuluh pertanian agar pelaksanaannya efektif di lapangan,” kata Sri Muniati.
Di luar penugasan pemerintah, Bulog Jateng juga diminta menyiapkan beras untuk kebutuhan pasar komersial. Beras kualitas medium hingga premium disiapkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat luas.
“Kami memastikan ketersediaan beras tidak hanya untuk penugasan PSO, tetapi juga untuk kebutuhan pasar komersial,” ujar Sri Muniati.
Memasuki awal musim panen 2026, Bulog Jateng mulai mengoptimalkan serapan sejak dini. Panen gabah sudah terlihat di sejumlah wilayah dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Maret 2026.
“Kami memilih mengoptimalkan serapan sejak awal panen agar hasil petani tidak tertahan dan kualitas gabah tetap terjaga,” kata Sri Muniati.
Untuk mendukung kelancaran penyerapan, Bulog Jateng memastikan kesiapan infrastruktur. Gudang, sarana pengeringan gabah, serta fasilitas pengolahan beras disiapkan dalam kondisi prima.
“Kesiapan gudang, mechanical dryer, dan Rice Milling Unit menjadi kunci utama, terutama menghadapi curah hujan yang masih cukup tinggi,” ujar Sri Muniati.
Berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Tengah, curah hujan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026 berada pada kategori menengah hingga tinggi. Bahkan di wilayah Kabupaten Pemalang, Tegal, Kendal, Kudus, dan Pati, curah hujan diperkirakan mencapai kategori sangat tinggi di atas 500 milimeter.
Hingga 24 Januari 2026, Bulog Jateng telah menyerap Gabah Kering Panen sebanyak 4.090 ton dan beras sebanyak 1.147 ton. Total serapan tersebut setara dengan 3.225 ton beras.
“Kami optimistis serapan akan terus meningkat seiring masuknya puncak panen dengan dukungan TNI/Polri, pemerintah daerah, dan mitra swasta,” kata Sri Muniati.
Saat ini, Bulog Jateng didukung 148 mitra pengolahan dengan kapasitas pengeringan mencapai 6.126 ton per hari dan 148 mitra RMU dengan kapasitas 3.463 ton per hari. Selain itu, tersedia 109 unit gudang induk dan swasta dengan total kapasitas penyimpanan mencapai 465.457 ton.
Dengan dukungan infrastruktur dan kemitraan tersebut, Bulog Jateng optimistis mampu memenuhi target penyerapan 2026. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan penugasan pemerintah di bidang pangan.(aln)


