SEMARANG– Bank Indonesia mengajak masyarakat berbelanja secara bijak dan sesuai kebutuhan untuk membantu menjaga stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Imbauan tersebut disampaikan dalam pembukaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah di Kantor Kecamatan Semarang Barat, Jumat (6/3/2026).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengatakan, perilaku belanja masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Karena itu masyarakat diharapkan tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying.
“Pasokan pangan di Jawa Tengah dalam kondisi cukup, sehingga masyarakat diharapkan berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak perlu melakukan pembelian berlebihan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Februari 2026, inflasi di Jawa Tengah tercatat sekitar 0,76 persen secara bulanan atau 4,43 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen, namun tetap perlu diantisipasi.
“Tekanan harga menjelang hari besar keagamaan biasanya meningkat, sehingga perlu langkah pengendalian yang terkoordinasi,” jelasnya.
M. Noor Nugroho mengatakan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi. Strategi tersebut meliputi penguatan pasokan pangan, stabilisasi harga melalui operasi pasar seperti Gerakan Pangan Murah, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan,” katanya.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu langkah konkret untuk memastikan masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
“Gerakan pangan murah ini harus menjadi model agar kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia dan harganya terjangkau,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Dyah Lukisari mengatakan, GPM digelar serentak di 35 kabupaten/kota dengan melibatkan pemerintah daerah, Perum Bulog, BUMD pangan, serta berbagai mitra strategis. Program ini juga mendapat dukungan Bank Indonesia dan TPID.
Ia menyebut, sejumlah komoditas yang disalurkan melalui GPM serentak meliputi beras 74 ton, gula pasir 7.250 kilogram, minyak goreng 21.000 liter, telur ayam ras 15.000 kilogram, serta bawang putih 3.400 kilogram. Hingga saat ini kegiatan GPM di Jawa Tengah telah dilaksanakan sebanyak 333 kali dan berhasil memenuhi target yang ditetapkan.(aln)


