BI Optimis, Ekonomi Awal Tahun Membaik

0
295

*Inflasi Jateng Diprediksi 0,3%

  SEMARANG- Meskipun pada Desember 2015 Provinsi Jawa Tengah mengalami tekanan inflasi sebesar 0,99% (mtm), namun secara keseluruhan tahun 2015, inflasi Provinsi Jawa Tengah terjaga pada level 2,73% (yoy). Angka ini jauh lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,22% (yoy), dan rata-rata historis lima tahun terakhir yang sebesar 6,02% (yoy).

Deputi Bank Indonesia Kanwil Jateng, Ananda Pulungan mengatakan, capaian inflasi selama 2015 tersebut terendah dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa. Terkendalinya inflasi ini diperkirakan akan berdampak positif pada perekonomian Jawa Tengah dengan terjaganya daya beli masyarakat.

Pada triwulan IV 2015, ekonomi Jawa Tengah diperkirakan tumbuh dengan level lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan berasal dari membaiknya kinerja konsumsi, baik Pemerintah, maupun masyarakat.

“Pada Januari 2016, tekanan inflasi diperkirakan menurun, seiring dengan mulai masuknya musim panen untuk sejumlah komoditas volatile food (aneka cabai dan bawang merah), serta kebijakan penurunan harga beberapa komoditas administered prices (BBM, elpiji),” katanya.

Hal ini tercermin dari hasil Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia. Ekspektasi masyarakat juga turut berkontribusi terhadap melambatnya laju inflasi, terlihat dari Survei Konsumen dan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia.

“Tekanan harga yang mereda ini juga tercermin dari aliran uang kartal di Kota Semarang yang sampai dengan 22 Januari 2016 tercatat mengalami net inflow sebesar Rp 3,31 triliun, berbeda dengan aliran uang Desember 2015 yang mengalami net outflow,” jelasnya.

Ditambahkan, Sejalan dengan hasil survei di atas, inflasi Jawa Tengah Januari 2016 diperkirakan berada pada kisaran 0,3-0,5% (mtm). Namun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan inflasi.

“Pada kelompok volatile food, tekanan inflasi berasal dari harga pakan yang berdampak pada masih tingginya harga daging ayam ras. Selain itu, harga bawang putih pun masih terpantau tinggi,” imbuhnya.

Kemudian pada sisi administered prices, lanjutnya, terdapat risiko kenaikan harga rokok akibat peningkatan cukai. Sementara pada kelompok inti, risiko berasal dari kenaikan upah tenaga kerja.

Dalam rangka mengantisipasi risiko tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan tetap meningkatkan koordinasi dalam melakukan upaya pengendalian inflasi. Salah satu koordinasi tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan aplikasi SIHATI sebagai sarana pemantauan harga dan virtual meeting.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here