Proyek Infrastruktur Dongkrak Laju Ekonomi

0
333

proyek

SEMARANG- Realisasi proyek infrastruktur pemerintah pada akhir tahun lalu berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jateng dari 5% dii triwulan III/2015 menjadi 6,1% di triwulan IV/2015.

“Realisasi proyek infrastruktur ini bukan menjadi satu-satunya faktor yang memacu pertumbuhan ekonomi. Faktor lain yang juga berperan adalah tingginya konsumsi rumah tangga dalam rangka hari raya Natal dan tahun baru,” kata Iskandar Simorangkir, Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah, disela Outlook Pertumbuhan Ekonomi Jateng, kemarin.

Menurutnya, secara akumulasi pada tahun 2015 perekonomian Jateng tumbuh sebesar 5,4% atau lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2014 yang tercatat sebesar 5,3%. Adapun jika dilihat dari sisi sektoral, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 adalah sektor industri pengolahan, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta sektor konstruksi.

“Peningkatan pertumbuhan ekonomi juga tercermin dari meningkatnya transaksi sistem pembayaran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, baik tunai maupun nontunai,” ungkapnya.

Ditambahkan, untuk sistem pembayaran tunai, berupa arus keluar pada bulan Desember 2015 tercatat tumbuh sebesar 37,81% secara ‘year on year’ (yoy) atau tahunan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 11,84%.

“Bersamaan dengan itu, transaksi sistem pembayaran nontunai berupa kliring tumbuh 30% yoy atau lebih tinggi dibandingkan bulan Desember tahun 2014 yang tercatat tumbuh sebesar 9,92%,” jelasnya.

Sementara, seiring dengan kondisi ekonomi yang membaik, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Februari lalu memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI atau ‘BI rate’ sebesar 25 basis poin atau 0,25% dari 7,25% menjadi 7%.

“Suku bunga ‘deposit facility’ menjadi sebesar 5% dann ‘lending facility’ menjadi sebesar 7,5%,” ujarnya.

Iskandar menjelaskan, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dalam rupiah sebesar 1% dari 7,5% ke level 6,5%. Kebijakan penurunan GWM ini berlaku efektif mulai 16 Maret mendatang.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.