Kualitas Tenaga Kerja Jateng Meningkat

0
571

kualitas tenaga kerja

SEMARANG – Kualitas tenaga kerja di Jawa Tengah terus menunjukan perbaikan. Hal itu ditunjukan oleh penurunan tenaga kerja berpendidikan rendah yaitu mereka yang hanya tamat sekolah dasar (SD) atau lebih rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng sampai bulan Februari 2016 tenaga kerja berpendidikan SMP atau SMA cenderung terus meningkat. “Kecendrungan ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dasar dalam bentuk pembebasan biaya untuk tingkat SD dan SMP,” kata Kepala BPS Jateng Margo Yuwono kemarin.

Dikatakannya, dalam periode setahun terakhir (Februari 2015 ― Februari 2016), penduduk bekerja dengan pendidikan rendah secara persentase mengalami penurunan dari 72,37 % pada Februari 2015 menjadi 71,10% pada Februari 2016. Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi juga mengalami peningkatan dari 7,72 % pada Februari 2015 menjadi 8,26 % pada Februari 2016.

Berdasarkan data, jumlah pengangguran pada Februari 2016 mencapai 0,75 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun dari 4,99% pada Agustus 2015 menjadi 4,20% pada Februari 2016.

“Pada Februari 2016, TPT untuk pendidikan SMA mencapai posisi tertinggi yaitu sebesar 6,83 %, disusul oleh TPT SMP sebesar 4,97 %, sedangkan TPT terrendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,73 %. Jika dibandingkan keadaan Februari 2015, TPT yang mengalami peningkatan yaitu pada tingkat pendidikan sekolah menengah atas, diploma I/II/III dan universitas,” jelasnya.

Dia menyebutkan meski kualitas tenaga kerja mengalami peningkatan, namun penyerapan tenaga kerja hingga pada Februari 2016 masih didominasi oleh penduduk yang berpendidikan rendah yaitu SD ke bawah sebesar 8,92 juta orang atau 51,97% dan SMP sebesar 3,28 juta orang (19,13 %). “Penduduk bekerja dengan pendidikan tinggi hanya sekitar 1,42 juta orang mencakup 0,36 juta orang (2,07 %) berpendidikan diploma dan 1,06 juta orang (6,18 %) berpendidikan universitas,” bebernya.

Sementara itu, jumlah angkatan kerja di Jateng sampai dengan bulan Februari 2016 mencapai 17,91 juta orang berkurang sebesar 378 ribu orang dibanding keadaan Februari 2015 dan bertambah sebesar 616 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2015.

Penduduk yang bekerja pada Februari 2016 turun sebesar 160 ribu orang dibanding keadaan Februari 2015, dan bertambah 727 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2015.

“Sementara jumlah penganggur pada Februari mengalami penurunan sebesar 218 ribu orang jika dibanding keadaan Februari 2015 dan turun sebesar 111 ribu orang jika dibanding keadaan Agustus 2015. Dalam setahun terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami penurunan sebesar 2,30 % poin,” sebutnya.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jateng  Frans Kongi mengakui, saat ini untuk kebutuhan tenaga kerja khususnya industri lebih diutamakan yang berpendidikan minimal SMP atau SMA.

Menurut Dia, kesadaran masyarakat untuk menempuh pendidikan sampai minimal SMP atau SMA sudah cukup tinggi. Hal ini membuat banyak lulusan-lulusan SMP atau SMA yang membutuhkan pekerjaan.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan lulusan SD pun dibutuhkan karena memiliki pengalaman dan kemampuan.”Sekarang ini yang dibutuhkan adalah bisa bekerja atau tidak. Meskipun lulusan SD tapi kalau mampu bekerja dengan baik, maka tetap akan dicari,” katanya.(dmg) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.