Bulog Gelontor 5,5 Ton Daging Sapi

*Stabilisasi Harga, Rp85.000/kg

 

SEMARANG- Perum Bulog divre Jateng telah menggelontorkan daging sapi hingga Rp5,5 ton ke pasaran. Daging sapi beku tersebut telah dipasarkan melalui ‘Operasi Pasar’ (OP) yang digelar di sejumlah titik, sejak 12 Juni hingga saat ini.

Kepala Perum Bulog Divre Jateng, Usep mengatakan, daging sapi beku yang dipasarkan ini merupakan bagian dari stabilisasi harga, sebagaimana fungsi Bulog. Daging tersebut berasal dari importir di Jakarta.

“Sejak dilakukan OP, dari 5,5 ton daging sapi yang digelontorkan, setidaknya 3,5 ton diantaranya sudah laku terjual,” katanya, kemarin.

Menurutnya, saat ini harga daging sapi di pasaran masih berada di kisaran Rp95.000/kg. Bulog sendiri menjual dengan harga di bawahnya, yakni Rp85.000/kg.

“Bulog siap gelontor daging sapi lebih banyak lagi jika memang kebutuhan pasar tinggi dan harga di pasar masih melambung, karena fungsi Bulog sebagai stabilisator harga,” ungkapnya.

Ditambahkan, selain daging sapi, Bulog juga menyediakan gula pasir. Bahkan, untuk komoditas tersebut, Bulog telah menggelontorkan 200 ton, dan menyusul tambahan 300 ton.

“Tapi kalau kebutuhan gula pasir masih tinggi, kami masih sanggup untuk siapkan hingga 2.000 ton,” imbuhnya.

Gula pasir dari Bulog, lanjutnya, dijual dengan harga Rp13.000/kg, dibawah harga pasar yang masih mencapai di atas Rp15.000/kg. Adapun gula pasir diperoleh Bulog dari PTPN X dan PTPN XI, yang berupa gula kristal putih.

“Penjualannya secara ritel juga dilakukan di setiap kantor sub divre Bulog, serta beberapa titik di pasar murah,” jelasnya.

Terkait cadangan beras, Usep menuturkan, saat ini ketahanan stoknya masih mencukupi sampai Desember, bahkan bisa sampai
Januari 2017. Adapun penyerapan beras saat ini rata-rata sebanyak 2.000 ton per hari, dengan target penyerapan beras di tahun ini sebanyak 505.000 ton, dan telah tercapai 330.000 ton.

“Untuk beras sendiri saat ini posisi stok masih sangat aman, dimana beberapa daerah juga tengah mengalami panen, seperti Sragen, Purwodadi, dan Demak,” ujarnya.

Sementara, strategi stabilisasi harga beras sendiri telah dilakukan, salah satunya melalui percepatan raskin, dimana raskin Juli disalurkan di bulan Juni. Selain itu, ada OP, dan juga cadangan beras pemerintah, serta pasar murah.

“Alokasi cadangan beras pemerintah ini kapanpun diperlukan, Bulog telah siap. Berapapun permintaan dari pemda,” tandasnya.(aln)

Berita sebelumyaPhapros Perluas Pasar Ekspor
Berita berikutnyaOJK Bentuk Satgas ‘Investasi Bodong’
Aning Karindra (Alin) || Blogger || www.ketaketik.com || ketaketikita@gmail.com || 08112706668 || Semarang, Jawa Tengah, Indonesia || Instagram : ketaketikcom || Twitter : ketaketik || Facebook : ketaketikcom || FanPage : ketaketikcom || Path : ketaketikcom || Ketaketik.com dibangun sejak 2015. Portal ini merupakan bagian dari aktifitas blog jurnalis yang dikelola pribadi dan mengabarkan informasi yang layak Anda simak dan bagikan. || Konten Ketaketik.com dapat dipertanggungjawabkan, karena disajikan secara profesional melalui proses jurnalistik, dengan melihat, mendengar, dan menyampaikan pesan yang akurat. ||