XL Future Leaders 3 Semarang Gelar Pentas Seni Luar Biasa

*Beri Ruang bagi Komunitas Difabel

 

–  Seorang anggota dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD), Pujiono, bercerita tentang keahliannya dalam memproses barang bekas menjadi barang baru, dalam program Pentas Seni Luar Biasa yang digelar ‘XL Future Leaders 3 batch Semarang’, di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Foto : ANING KARINDRA

SEMARANG- Dalam rangka memberikan solusi terhadap permasalahan sosial, khususnya dalam meningkatkan potensi bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan komunitas difabel, XL Future Leaders batch 3 Semarang menggelar pentas seni luar biasa bertajuk ‘Inspirasi Luar Biasa’, di Student Center Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
 
 
VP XL Central Region, Rd.Sofia Purbayanti mengatakan, pihaknya sangat bangga dengan ide yang tercetus dari para peserta XL Future Leaders 3 batch Semarang dalam menjawab tantangan Social Innovation Project (SIP), yang merupakan salah satu rangkaian program XL Future Leaders. Memberikan pembekalan sekaligus wadah kepada komunitas berkebutuhan khusus dan difabel untuk menggali potensi dan bakat yang mereka miliki, bukanlah perkara yang mudah. 

“Hal ini merupakan hasil dari pembangunan karakter yang telah kami lakukan selama hampir dua tahun, yang tidak hanya membangun intelektualitas tinggi, namun juga kecerdasan emosional yang mengasah empati dan kemampuan untuk memberikan solusi bagi berbagai permasalahan sosial yang ada di lingkungan sekitar,” katanya.

Salah satu peserta XL Future Leaders 3 batch Semarang, Ignatius Ivan Hartono mengungkapkan, XL Future Leaders telah mendidik kami selama dua tahun untuk memiliki mindset entrepreneurship, dengan sentuhan jiwa sosial. Segala hal yang dilakukan, tidak hanya berorientasi keuntungan, namun yang jauh lebih penting memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar.

“Itulah tujuan dari Social Innovation Challenge ini,” ungkapnya.

Dalam pentas seni ‘Inspirasi Luar Biasa’, diperkenalkan talenta dari berbagai komunitas anak berkebutuhan khusus di Semarang, diantaranya penampilan seni, tari, serta pameran dan fashion show Batik Ciprat karya anak –anak SLB, yang pernah memecahkan 9 rekor MURI. Tidak hanya pentas seni dan pameran batik saja, dalam kesempatan ini juga digelar berbagai macam hiburan dan kegiatan amal. 

“Para pengunjung dikenakan harga  tiket sebesar Rp40 ribu yang hasilnya didonasikan kepada SLB Negeri Semarang,” jelasnya.
 
Sementara, Social Innovation Project merupakan proyek sosial dengan memanfaatkan teknologi digital, yang diusung oleh para mahasiswa XL Future Leaders (XLFL). Melalui ajang XL Social Innovation Project 2016 yang telah diluncurkan pada Mei 2016 lalu, saat ini sebagian proyek usulan mereka telah mulai dikerjakan dan bahkan sudah ada yang selesai hingga tahap prototype.

“Ragam proyek mereka sangat beragam menyasar berbagai sektor, mulai aplikasi untuk membantu memahami motif batik serta filosofi di balik motif tersebut termasuk membantu pemasaran Batik di Yogya, solusi digital untuk pengaturan peminjaman buku perpustakaan, edukasi pencegahan pelecehan seksual pada anak, hingga penciptaan Gear Virtual & Augmented Reality untuk belajar sejarah di museum,” sambung Sofia.

Dijelaskan, proyek yang diusung  harus merupakan solusi atas persoalan masyarakat di sekitarnya. Ajang ini memang untuk mengasah kepekaan para peserta XL Future Leaders  atas problema yang ada dan sekaligus mencari jalan keluarnya.(aln)