SEMARANG- Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Tengah optimis, inflasi pada tahun ini terkendali. Hal ini seiring dengan harga kebutuhan pokok yang tidak mengalami lonjakan.
Kepala BI Kanwil Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir mengatakan, melihat capaian inflasi bulan Oktober sebesar 0,05%, BI optimis inflasi hingga akhir tahun akan membaik. Dengan inflasi tersebut, artinya capaian inflasi secara tahunan dari Januari hingga Oktober di level 1,58%.
“Kami memprediksi hingga akhir tahun ini inflasi Jawa Tengah tidak lebih dari 2,5 persen. Kemungkinan maksimal adalah 2,5 persen itu,” katanya.
Meski demikian, lanjutnya, ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Pasalnya, BI melihat ada gejala penurunan pertumbuhan ekonomi.
“Apalagi, jika upah minimum kabupaten/kota (UMK) untuk 2017 meningkat tajam, akan berpotensi memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah,” ujarnya.
Sebelumnya, Iskandar menjelaskan, perhitungan untuk UMK adalah pertumbuhan ekonomi riil ditambahkan inflasi. Seharusnya hal itu menjadi harga yang wajar untuk peningkatan upah buruh.
“Kalau kita mau bersaing, hasil dari diskusi kami dengan pemerintah dan pengusaha adalah semua sepakat seperti itu. Saya bilang kalau mau upah optimal bisa bersaing di dunia luar, jangan hanya memperhatikan satu pihak tetapi juga harus diperhatikan produktivitasnya, ini hasil yang optimal,” terangnya.
Sementara, melihat kondisi ekonomi tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,44%, dengan inflasi sebesar 2,72%. Artinya, jumlah perhitungan UMK adalah 8%, sesuai dengan PP. Angka ini yang terbaik buat kita. Kalau mau bersaing harus menerapkan itu, kalau tidak nanti kita dikejar Vietnam,” tegasnya.
Sementara, jika besaran UMK di Jateng lebih dari 8%, maka akan berdampak buruk bagi industri dan berujung pada merosotnya ekonomi.(aln)