Inflasi Jateng 2016 Rendah Terkendali

0
342

 SEMARANG- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Semarang mencatat, inflasi IHK Provinsi Jawa Tengah bulan Desember 2016 sebesar 0,21% (mtm), lebih rendah dari bulan lalu yang sebesar 0,56% (mtm). Inflasi tersebut terutama disumbang oleh komponen administered prices dan volatile food, sementara inflasi inti tercatat stabil.
Dengan demikian, inflasi IHK secara keseluruhan tahun 2016 mencapai 2,36% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 2,73% (yoy), dan berada di bawah kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4±1% (yoy).

Deputi Kepala Pewakilan BI Semarang, Rahmat Dwisaputra mengatakan, pada bulan Desember 2016, inflasi administered prices mencapai 0,48% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,29% (mtm). Perkembangan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga bensin, rokok kretek filter, dan tarif angkutan udara.

“Kenaikan harga bensin terjadi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah pada bulan lalu. Sementara kenaikan harga rokok kretek filter sejalan dengan kenaikan cukai rokok bertahap pada tahun 2016. Peningkatan tarif angkutan udara terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas penerbangan di tengah liburan akhir tahun,” katanya.
Ditambahkan, untuk keseluruhan tahun, komponen administered prices mencatat deflasi sebesar 0,29% (yoy), ditopang oleh tren penurunan harga energi dunia selama tahun 2016, yang juga didukung oleh reformasi subsidi berupa penyesuaian harga BBM dan tarif listrik.

“Inflasi volatile food pada bulan Desember 2016 tercatat sebesar 0,24% (mtm), turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,14% (mtm). Inflasi komponen ini terutama bersumber dari komoditas telur ayam ras, cabai rawit, dan kol putih/kubis,” imbuhnya.

Menurutnya, untuk keseluruhan tahun 2016, inflasi volatile food mencapai 5,35% (yoy), cukup rendah di tengah terjadinya gejala La Nina. Terjaganya inflasi volatile food didukung oleh terjaganya pasokan bahan pangan, pasar murah, serta semakin kuatnya koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia, antara lain melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan juga pemanfaatan aplikasi mobile Sistem informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHaTi).

Di lain sisi, lanjutnya, inflasi inti tetap terkendali pada level yang rendah, baik secara bulanan maupun tahunan, yaitu masing masing sebesar 0,12% (mtm) dan 2,23% (yoy). Rendahnya inflasi inti tersebut didorong oleh masih terbatasnya permintaan domestik, lemahnya tekanan eksternal, dan membaiknya ekspektasi inflasi.

“Hal tersebut tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi,” ujarnya.

Sementara, ke depan inflasi Jawa Tengah diperkirakan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4±1%. Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat melalui berbagai inovasi baru yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan stabilitas harga berbagai komoditas pangan strategis.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.