“Mimpi Itu Jadi Nyata”

0
354
CEK- ‎Seorang petugas tengah melakukan pengecekan tegangan, frekuensi, dan kuat arus di ruang panel PLTD Legon Bajak, Karimunjawa.
WARSITO (49) tak menyangka, mimpinya akan kehadiran PLN di Pulau Karimunjawa yang masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, selama ini bisa menjadi kenyataan. Terlebih, setelah puluhan tahun ribuan masyarakat di pulau dengan julukan ‘Paradise of Java’ ini hidup dengan kondisi keterbatasan listrik.
“Adanya PLN dengan jaminan listrik 24 jam sejak tahun 2016 lalu ini membuat warga Karimunjawa seolah bangkit dari mimpi untuk mewujudkan mimpi-mimpi baru,” kata Warsito, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir rental mobil, yang secara kebetulan mengantarkan Jateng Pos beserta rombongan keliling Pulau Karimunjawa.
Sepanjang perjalanan, pria asal Pekalongan itu bertutur, masuk ke Karimunjawa di tahun 1997 dengan memboyong serta keluarganya. Pada masa tersebut, masyarakat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, sehari-hari hidup dalam kegelapan.
“Di tahun 1997 itu listrik baru pertama masuk Karimunjawa, dan dikelola oleh pemerintah daerah setempat, tapi masih sangat terbatas, cuma nyala maksimal 6 jam sehari. Itu pun tarifnya relatif mahal,” ujarnya yang mengawali kehidupannya di Karimunjawa sebagai nelayan.
– MENUNGGU DAGANGAN- Seorang warga Karimunjawa yang menjajakan berbagai olahan hasil laut di Alun-alun Karimunjawa, tengah menunggu dagangannya. 
‎Warsito yang beralih profesi menjadi sopir dan penyedia jasa rental mobil menuturkan, baru mulai Mei 2016, listrik di Karimunjawa bisa menyala selama 24 jam. Sejak saat itu pula, geliat perekonomian masyarakat mulai bergairah.
“Sejak ada listrik non stop, mulai ada hotel-hotel baru, wisatawan yang berkunjung juga makin ramai. Otomatis masyarakat ikut terkena dampak positifnya,” tuturnya yang kini mengaku hampir setiap hari mendapatkan order rental mobil dan mengantarkan wisatawan berkeliling Karimunjawa.
– HASIL LAUT- Selepas melaut, nelayan Karimunjawa menawarkan hasil laut tangkapannyaa kepada pembeli yang telah menunggu di Pelabuhan Karimunjawa.
Hal senada dikatakan Trisno (52), penjual souvenir di area Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-alun Karimunjawa.  Kehadiran PLN yang menerangi wilayahnya selama 24 jam sejak Mei 2016 itu menjadi angin segar bagi perekonomian masyarakat.
“Wisatawan makin ramai. Dagangan makin laris. Masyarakat yang lainnya juga ikut makmur,” jelas Trisno, penduduk asli Karimunjawa yang menggelar lapak souvenir khas Karimunjawa bersama istrinya.
Trisno mengisahkan, sebelum ada listrik 24 jam, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya di laut. Masyarakat pun seolah ‎berpacu dengan waktu dalam melakukan aktifitasnya, khususnya yang membutuhkan energi listrik maupun penerangan.
“Untuk aktifitas masak nasi menggunakan magic com harus dilakukan di saat-saat tertentu saja. Sering juga saat masak nasi tiba-tiba listrik mati.‎ Begitu pula saat lagi asyik nonton televisi, listrik padam, karena memang nyalanya yang terbatas. Masyarakat juga jarang keluar rumah di saat malam hari. Wisatawan masih sangat terbatas,” kisahnya.
Saat ini, Trisno sudah mulai merasakan tingkat kunjungan wisata yang semakin tinggi. Hal ini terbukti dari omzet dagangannya yang bertambah signifikan.
“Hampir tiap malam Alun-alun Karimunjawa ramai wisatawan, ada yang sekedar nongkrong, wisata kuliner, cari aneka olahan makanan khas Karimunjawa, hingga cari souvenir oleh-oleh,” ujarnya bahagia.
Perihal listrik Karimunjawa, ‎Deputi Manajer Komunikasi Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah & D.I Yogyakarta, Hardian Sakti Laksana mengatakan, kehadirannya selama 24 jam merupakan bagian dari komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Karimunjawa. Apalagi, Karimunjawa merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Tengah, yang diharapkan mampu berkembang pesat seiring kehadiran listrik PLN.
Menurut Sakti, saat ini sistem kelistrikan di Karimunjawa ditopang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Legon Bajak, yang beroperasi sejak Mei 2016. Pembangkit tersebut memiliki kapasitas daya mampu hingga 2 x 2.200 kW, dengan buban puncak saat ini yang masih relatif kecil sebesar 612 kW.
“‎Hingga Maret 2017, tercatat jumlah pelanggan PLN di Karimunjawa mencapai 1.855 pelanggan rumah tangga, dan 86 pelanggan bisnis. Sedangkan total daya tersambung sebesar 3.279 kVA, dengan panjang jaringan listrik mencapai 45 kms,” ungkapnya.
Sakti menambahkan, ‎jaringan listrik di Karimunjawa ditopang oleh dua penyulang yang membentang dari PLTD di Desa Kemujan sampai Desa Karimunjawa. Selain itu, PLN juga membuka kantor pelayanan di Karimunjawa dengan didukung oleh tim pelayanan teknik yang bertugas selama 24 jam.
“Setidaknya, lima pulau yang berpenghuni di Karimunjawa, dua diantaranya sudah teraliri listrik,” tambahnya.
Sejak diserahterimakannya pengoperasian sistem kelistrikan di Karimunjawa dari pemerintah kabupaten Jepara kepada PLN, lanjutnya, pertumbuhan penjualan tenaga listrik di wilayah tersebut naik hingga 9% atau melebihi rata-rata kelistrikan nasional sebesar 6,5%. Kenaikan tersebut disebabkan oleh turunnya harga listrik, dimana sebelumnya masyarakat harus membayar sebesar Rp2.500/kWh.
“Kini harga jual listrik yang ditetapkan pun makin murah sejak adanya  PLTD Legon Bajak,” paparnya.
Ditambahkan, ‎harga listrik untuk tarif rumah tangga ditetapkan sebesar Rp1.467/kWh. Sedangkan untuk tarif bisnis berdasarkan standar biaya pokok produksi (BPP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp2.332/kWh.
Sakti menegaskan, saat ini di Karimunjawa masih tersedia cadangan listrik, kurang lebih sebesar 3.000 kW atau kira-kira setara dengan tambahan 10 hotel besar. Jumlah tersebut merupakan peluang bagi para investor yang ingin mengembangkan usahanya, khususnya di sektor pariwisata di Pulau Karimunjawa.
Ditegaskan, dengan jaminan energi listrik yang berlebih, saat ini potensi Karimunjawa sangat menjanjikan. Bahkan, sejumlah investor sudah melirik kawasan tersebut, seperti Pabrik Es, Java Paradise Resort, Grand Mega Resort dan D’season Bandara, dimana total empat infrastruktur tersebut membutuhkan listrik sekitar 1 MW. 
 
“Kami pun masih menunggu investor-investor lainnya untuk mengembangkan bisnisnya di Karimunjawa,” tegasnya. 
Seperti diketahui, Kepulauan Karimunjaw‎a memiliki 27 pulau dengan 5 pulau yang telah berpenghuni. Lokasi ini merupakan salah satu wisata unggulan Jawa Tengah.
“Beberapa objek wisata yang telah dikenal antara lain Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Cemara Besar, Spot Nyamplungan, Pantai Tanjung Gelam, Pulau Cilik, Pulau Tengah, dan Pulau Geleang,” pungkas Sakti.(Aning Karindra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.