Bismillah…. Sedikit berbagi cerita pengalaman saya kena covid (3) :

Semarang, 4 Maret 2021

“Nikmat bertubi-tubi, tatkala dinyatakan NEGATIF dan SEMBUH covid, serta LULUS isolasi mandiri. Saatnya berbaur dengan keluarga, bersosialisasi…dan tentunya beradaptasi dengan kondisi tubuh”

Aning Karindra (Alin), Semarang

SELAMA saya menjalani isolasi mandiri paska dinyatakan NEGATIF dan SEMBUH covid sepulang dari rumah sakit, saya selanjutnya berada dibawah kontrol dan pengawasan petugas Puskesmas. Karena saya sementara tinggal dan isolasi di Karangayu, maka petugas Puskesmas Karangayu lah yang kerapkali datang atau pun sekedar chat whatsapp untuk memantau kondisi saya.

Jika merujuk anjuran dokter rumah sakit, isolasi mandiri terhitung antara 7 hari hingga 14 hari. Namun sesuai peraturan terbaru dari pemerintah terkait covid, isolasi mandiri bisa dilakukan 10 hari dengan tanpa gejala signifikan.

Jadi ceritanya… Pada Senin, 1 Maret 2021, petugas Puskesmas menghubungi saya dan memberikan kabar jika masa isolasi saya selama 10 hari, terhitung mulai 20 Februari hingga 1 Maret telah berakhir. Petugas menginfokan jika saya sudah boleh berbaur dengan keluarga dan orang-orang, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, dalam hal ini 5 M, yakni Memakai masker, Menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin, Mengurangi mobilitas, dan Menjauhi kerumunan.

Petugas dari Puskesmas Karangayu pun menginfokan jika surat akan diantar ke rumah pada Selasa, 2 Maret 2021.

“Selamat siang bu… Hari ini masa isolasi tambahan 10 hari untuk bu aning sudah selesai nggih
Cuman untuk surat mohon maaf masih dalam proses. Besok kalau sudah ada saya antarkan ke rumah nggih 🙏”

Sungguh… Nikmat bertubi-tubi yang saya terima tatkala dinyatakan NEGATIF dan SEMBUH covid, serta LULUS isolasi mandiri. Saatnya berbaur dengan keluarga, bersosialisasi…dan tentunya beradaptasi dengan kondisi tubuh.

Kabar tersebut tentu disambut gembira juga oleh suami dan anak-anak saya. Setelah hampir sebulan terpisah, Selasa, 2 Maret 2021 siang, anak-anak udah gak sabar pengin ngumpul bareng maminya. Mereka buru-buru memboyong semua mainannya dari rumah neneknya yang notabene cuma di depan, ke rumah belakang. Apalagi, bersamaan dengan itu, petugas Puskesmas Karangayu datang membawa surat LULUS Isolasi mandiri, sebagai bukti otentik jika saya benar-benar sudah dinyatakan sembuh covid.

Lalu…. Bagaimana dengan gejala yang masih saya rasakan sebagai efek Long Covid?

Begini percakapan saya dengan petugas Puskesmas :

Me : “Mas… Aq masih batuk gmn ya? Itu menular gak ya?”

Petugas : “Kalau batuk secara umum memang bisa menular bu.., cuma untuk saat ini bu Aning kan sudah dinyatakan negatif covid.., jadi insyaallah tidak menularkan covidnya.. Kalau masih batuk bisa minum obat batuk yg biasa diminum nggih bu.. Atau bisa juga datang ke puskesmas untuk konsultasi dengan dokter dan dilakukan pemeriksaan.”

Me : “Brarti batuknya gak menularkan covid lg ya mas? Terus terang aq mash blm pede deket2 anak dan suami.”

Petugas : “Endak bu, ini merujuk pada hasil swab pcr negatif yg udah dilakukan terakhir. Berarti sudah tidak ditemukan virus di dalam tubuh bu Aning. Jika tidak ada virus berarti tidak ada juga kemungkinan untuk menularkan. Insyaallah sudah aman bu.”

Tentu saja… Saya sedikit lega dengan penjelasan tersebut… Meski begitu, cemas masih sedikit nyelip di perasaan. Saya masih berjaga jarak dengan anak-anak dan suami yang kini sudah serumah. Bahkan, karena di rumah kini tak sendirian lagi, saya masih selalu menggunakan masker di rumah.

Dalam tahap pemulihan ini, aktifitas saya pun terus saya tingkatkan. Tiap pagi selepas subuh saya keluar rumah olahraga pagi, peregangan otot-otot, jalan rata-rata 1500 langkah. Setelahnya sarapan, minum obat, serta menunggu saat tepat untuk berjemur matahari.

Oh ya… Untuk mengurangi kejenuhan, Rabu (3/3/2021) kemarin, saya mulai diajak keluar rumah bareng suami dan anak-anak, sekedar putar-putar keliling kota. Sembari memenuhi janji anak-anak yang rindu nonton kereta api melintas di perlintasan bareng mami papinya. Seperti biasa, hanya di dalam mobil saja… Tetap jaga jarak dan pakai masker saat bareng suami dan anak-anak.

Sementara, sesuai dengan perintah dokter rumah sakit, Jumat, 5 Maret 2021 saya diwajibkan kontrol pertama paska covid di Poli Paru RS Tugurejo Semarang, tempat saya 9 hari menjalani isolasi dan perawatan covid, pada 10-19 Februari 2021. Berharap hasilnya terus membaik dan segera bisa melewati masa-masa long covid ini, serta kembali hidup normal.

Yang masih dirasakan saat ini kondisi saya masih kerap batuk, cepat lelah dan ngos-ngosan. Kecemasan mulai terkikis seiring kabar-kabar menggembirakan yang hadir, aktifitas harian yang makin berwarna dengan kebersamaan suami dan anak-anak, serta perhatian dari orang tua, mertua, teman, saudara, sahabat, relasi, dan orang-orang baik yang mengelilingi saya.🙏

Tetap menghindari hal-hal yang membuat down dan imun turun, seperti hindari mencari informasi terkait covid di google. Pantang menonton berita-berita televisi, apalagi berita soal covid. Untuk aktifitas medsos pun dibatasi pada aktifitas yang membuat kita bahagia saja.

Bersyukur, banyak dikelilingi orang baik yang terus memberikan doa, support dan perhatian untuk kesembuhan saya. Semoga seluruh kebaikan mereka kepada saya mendapat balasan yang lebih dari Allah SWT… Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin🤲🙏 (*)