INTERAKSI – Giselle Purnama berinteraksi dengan anak-anak PAUD/TK As Syukur saat penyerahan bantuan furnitur berupa meja dan kursi hasil olahan sampah plastik multilayer di TPA As Syukur, Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (9/10/2026). Giselle juga membantu penyediaan mainan edukasi untuk menunjang kegiatan belajar dan bermain anak-anak. FOTO: ANING KARINDRA
KABUPATEN SEMARANG – Sampah plastik yang sulit didaur ulang tidak selalu harus berakhir sebagai residu. Di tangan Giselle Purnama, bungkus sachet yang selama ini kerap terabaikan justru diolah menjadi furnitur yang bermanfaat bagi anak-anak, sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah.
Siswi kelas XI Jakarta Intercultural School (JIS) tersebut menginisiasi pemanfaatan 400 kilogram sampah plastik multilayer atau multilayer plastic (MLP) yang dikumpulkan dari 21 bank sampah di Desa Bergas Kidul, Kabupaten Semarang. Hasil pengolahannya berupa 20 meja dan kursi diserahkan kepada TPA As Syukur di Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Jumat (9/10/2026), untuk menunjang kegiatan belajar dan bermain anak-anak.
Penyerahan bantuan tersebut menjadi bagian dari proyek bertajuk Collaboration for Sustainability: Upcycle Sampah MLP Menjadi Ruang Ceria Anak. Selain furnitur hasil olahan sampah, Giselle juga membantu menyediakan mainan edukasi untuk mendukung aktivitas pembelajaran anak-anak PAUD/TK As Syukur.
Gagasan itu berawal dari pengalaman Giselle menjalani praktik kerja lapangan di Sido Muncul pada 2025. Saat itu, ia melihat potensi 21 bank sampah aktif di Bergas Kidul yang dapat dikembangkan untuk menangani sampah plastik multilayer sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Saya melihat ada potensi dari bank sampah di Bergas Kidul yang bisa dikembangkan. Saya ingin sampah yang selama ini belum termanfaatkan dapat diolah menjadi barang berguna, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat sekaligus mendukung kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Giselle.
Proyek tersebut merupakan inisiatif pribadi Giselle yang mendapat fasilitasi Sido Muncul. Bersama Community Development (Comdev) Sido Muncul dan pengelola bank sampah setempat, ia berupaya memperkenalkan pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga pada penciptaan manfaat bagi warga.
“Prinsipnya dari masyarakat, untuk masyarakat. Harapannya, sampah yang dikumpulkan masyarakat bisa kembali memberikan manfaat bagi mereka, baik untuk kesejahteraan maupun untuk menjaga lingkungan tetap hijau,” katanya.
Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop pengolahan MLP pada Juli 2026. Dalam kegiatan itu, warga mendapatkan pengenalan mengenai pengolahan sampah menjadi particle board, yakni lembaran material yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan berbagai produk.
Kegiatan dilanjutkan dengan lomba kreasi produk yang melibatkan masyarakat dari bank sampah setempat. Berbagai hasil karya muncul, mulai dari tempat sampah, meja, kursi, hiasan rumah, hingga rak buku dan rak sepatu, yang menunjukkan potensi pemanfaatan material yang sebelumnya sulit terserap dalam sistem daur ulang konvensional.
Sebanyak 400 kilogram sampah yang dikumpulkan dari 21 bank sampah menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui pengolahan yang tepat, material itu dapat dimanfaatkan kembali dan menghasilkan produk yang memiliki fungsi baru.
Bagi Giselle, manfaat proyek tidak berhenti pada perubahan sampah menjadi furnitur. Ia juga ingin hasil kolaborasi tersebut dapat menjangkau kebutuhan masyarakat, termasuk mendukung fasilitas pembelajaran bagi anak-anak yang membutuhkan lingkungan pengasuhan yang memadai.
Ketua TPA As Syukur, Siti Makfiah, mengatakan lembaga tersebut berdiri sejak 2013 dan kini melayani 15 anak dengan dukungan lima pengasuh. Kegiatan pengasuhan berlangsung setiap Senin hingga Sabtu dengan pembelajaran melalui bermain dan pendidikan agama.“Bantuan meja dan kursi ini sangat membantu kegiatan pembelajaran anak-anak. Apalagi ada dukungan mainan edukasi yang bisa digunakan untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari,” ujar Siti Makfiah.
TPA As Syukur yang berlokasi di wilayah Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, menyediakan layanan penitipan dengan biaya mulai Rp450 ribu serta pilihan penitipan harian. Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, ketersediaan fasilitas menjadi salah satu unsur pendukung agar anak-anak dapat mengikuti kegiatan belajar dan bermain dengan lebih nyaman.
Siti menuturkan, dukungan Sido Muncul kepada TPA As Syukur telah berlangsung sekitar dua tahun. Sebelumnya, bantuan yang diterima mencakup kanopi, mainan, dan sejumlah fasilitas pembelajaran lainnya.
“Sudah sekitar dua tahun kami mendapat bantuan dari Sido Muncul. Sebelumnya ada kanopi, mainan, dan fasilitas pembelajaran lainnya. Bantuan meja dan kursi ini kembali sangat berarti untuk menunjang kegiatan anak-anak,” ungkapnya.
Selain memberikan dukungan fasilitas, kegiatan penyerahan bantuan juga menjadi kesempatan bagi Giselle untuk berinteraksi dengan anak-anak PAUD/TK As Syukur. Kehadiran furnitur dan mainan edukasi diharapkan dapat memperkaya kegiatan belajar melalui permainan sekaligus mendukung suasana pengasuhan yang lebih menyenangkan.
Perwakilan PLKB Kecamatan Ungaran Timur, Rochmiatun, mengapresiasi kolaborasi yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan dukungan bagi pendidikan anak usia dini. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat langsung bagi TPA As Syukur sekaligus menjadi contoh bahwa kepedulian lingkungan dapat diwujudkan melalui kegiatan yang berguna bagi masyarakat.
“Kami mengapresiasi kepedulian Giselle dan Sido Muncul. Bantuan ini bermanfaat untuk anak-anak, sekaligus memberikan contoh bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai manfaat,” ujar Rochmiatun.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk semakin peduli terhadap lingkungan, antara lain dengan memilah sampah plastik sachet dan mengumpulkannya untuk disetorkan ke bank sampah terdekat. Dengan keterlibatan warga, pengelolaan sampah diharapkan menjadi kebiasaan yang memberikan manfaat jangka panjang.
“Kami berharap kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan beriringan dengan perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Dukungan terhadap fasilitas pengasuhan dan pembelajaran juga penting, termasuk dalam upaya pencegahan stunting,” tegasnya.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah dapat dihubungkan dengan kebutuhan sosial masyarakat. Material plastik multilayer yang sulit didaur ulang mendapat fungsi baru, sementara hasil pengolahannya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pendidikan anak usia dini.
Bagi Giselle, proyek tersebut menjadi pengalaman untuk menerjemahkan kepedulian lingkungan menjadi tindakan nyata. Potensi bank sampah yang ia lihat selama praktik kerja lapangan berkembang menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat, menghasilkan produk, dan memberikan manfaat bagi anak-anak.
Dari 400 kilogram sampah yang dikumpulkan melalui 21 bank sampah, lahir 20 meja dan kursi yang kini dapat dimanfaatkan di TPA As Syukur. Dukungan mainan edukasi melengkapi upaya menghadirkan fasilitas yang membantu anak-anak belajar dan bermain.
Dari bungkus sachet yang semula dianggap tidak bernilai, tumbuh manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menjaga bumi dapat dimulai dari pengelolaan sampah, lalu berkembang menjadi gerakan yang menghadirkan manfaat bagi generasi masa depan.(aln)


