Nglanggeran, dari Kawasan Marginal Menjadi Optimal

0
321

Sunting
PANEN  KELENGKENG- Manager Small Medium Enterprises Partnership Program (SMEPP) Operation PT Pertamina (Persero), Agus Mashud S. Angari (kanan), disela panen perdana kelenhkeng di Kawasan Ngelanggeran, Patuk, Gunungkidul. Foto : ANING KARINDRA


*CSR Pertamina 


MENGENAL Kawasan Ngelanggeran, di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, awalnya merupakan lahan marginal yang sulit untuk dikembangkan. Pasalnya, kondisinya lumayan gersang dan jauh dari sumber air aktif. 


Berkat upaya dari pemerintah daerah setempat dan didukung oleh berbagai perusahaan, termasuk Pertamina, pada tahun 2011 kawasan ini mulai ditransformasikan menjadi kawasan yang lebih produktif. Hal tersebut tidak terlepas adanya pembuatan embung sejenis sumber air buatan yang berbentuk seperti kolam. 


Langkah tersebut diambil sejalan dengan berkembangnya konsep wisata alam yang semakin digandrungi sejak awal 2010-an.

Pengembangan kawasan ini kemudian ditunjang dengan dukungan berupa upskilling kepada kelompok tani, seputar manajemen pertanian dan sistem bercocok tanam yg lebih modern. 


Sejak tahun 2013, Pertamina bekerjasama dengan Yayasan Obor Tani sebagai pendamping melakukan serangkaian tinjauan, dengan menggandeng kelompok tani setempat untuk mulai mengembangkan kawasan yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Program kemitraan telah terjalin hingga kini, dan mulai dapat dirasakan manfaatnya pada panen perdana kebun kelengkeng di kawasan Ngelanggeran.


Ditemui pada panen perdana tersebut, Manager Small Medium Enterprises Partnership Program (SMEPP) Operation PT Pertamina (Persero), Agus Mashud S. Angari menyatakan, sejak menjalin kerjasama dengan Yayasan Obor Tani, Pertamina telah melakukan serangkaian tinjauan, upskilling dan pendampingan bagi para petani. Hal ini termasuk untuk lebih membuka wawasan mengenai pola cocok tanam dan manajemen pertanian yang lebih modern. 


“Selain itu, Pertamina sejak 2013 telah membantu kelancaran kegiatan kelompok tani dengan memberikan 2.800 bibit pohon durian dan 300 pohon kelengkeng,”  katanya.


Dijelaskan, dukungan fisik tentunya dibutuhkan oleh para petani. Namun, yang tidak kalah penting adalah pendampingan dan capacity building yang dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan bercocoktanam warga sekitar.


“Pemilihan Ngalenggeran sebagai lokasi program Coprorate Social Responsibility (CSR) Pertamina dikarenakan karakteristiknya sebagai daerah marginal namun kaya akan potensi,” jelasnya.


Selain Ngalenggeran, lanjutnya, Pertamina juga melakukan program serupa di 8 titik lain diantaranya Boyolali, Rembang dan Karanganyar.

 

Ditemui pada momen yang sama, Ketua Kelompok Tani Kencono Mukti, Sudiyono menyatakan, program yang diusung Pertamina ini telah memberikan multiplier effect bagi Nglanggeran. Selain dijadikan lokasi perkebunan, dengan adanya embung, kawasan ini menjadi salah satu objek wisata unggulan di daerah Gunung Kidul.

 

“Warga sekitar dapat membangun warung dan mendapatkan pendapatan dari tiket masuk ke dalam kawasan,” terang Sudiyono.

 

Terkait dengan kegiatan panen kelengkeng, Ketua Kelompok Tani Kencono Mukti yang beranggotan 85 orang ini meyakini, dengan sistem bercocok tanam yang lebih modern serta ditunjang dengan pemberian nutrisi yang dapat meningkatkan kualitas produk, hasil panen Klengkeng jenis Itoh ini tidak kalah dari produk yang ada di pasar modern.

 

Sementara, sebagai bagian upaya dari pemerataan program, ke depannya program serupa akan coba diterapkan di wilayah luar Jawa. Pengembangan budidaya ini diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan buah lokal yang selama ini masih didominasi buah impor dan mengoptimalkan kawasan-kawasan di Indonesia yang kaya akan potensi.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here