Layani Pelanggan dengan Bahagia

0
266

HALAL BIHALAL- Budayawan sekaligus Intelektual, MH Ainun Nadjib atau Cak Nun, saat mengisi acara Halal Bihalal karyawan di lingkungan PT PLN  (Persero) Distribusi Jateng-DIY. FOTO : ANING KARINDRA



SEMARANG- Karyawan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIY dituntut untuk selalu bahagia dalam melayani para pelanggannya. Butuh keikhlasan untuk menjadi pelayan 

masyarakat sebagai bentuk amal ibadah.



Demikian dikatakan Agung Nugraha, Manager PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIY, dalam acara Halal Bihalal karyawan di lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIY.



Menurut Agung, sejak kali pertama menjabat sebagai orang nomor satu di lingkungan kantor PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah-DIY, dirinya sudah menginstruksikan semua pegawai bekerja melayani masyarakat dengan bahagia.



“Meski ketika menjalankan tugas atau pekerjaan mendapat celaan dari masyarakat, namun pegawai PLN sudah bahagia karena mampu menjalankan tugas dengan baik,” himbaunya.



Agung menuturkan, bahagia adalah wujud dari syukur, mensyukuri pekerjaan yang dilakukan. Untuk itu pihaknya mengajak seluruh pegawai untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan kewajibannya.



“Kalau asal-asalan itu adalah penghianatan,” ujarnya.



Kehadiran MH Ainun Nadjib (Cak Nun), dalam acara Halal Bihalal karyawan PLN pun mampu membawa nuansa sumringah. Di hadapan ratusan karyawan PLN, Cak Nun bersama Kyai Kanjeng memberikan motivasi bagi karyawan dalam bentuk ceramah dan hiburan.



Dalam wejangannya, Cak Nun mengajak masyarakat untuk saling menghormati. 



“Sekarang ini sebagian masyarakat sibuk dengan kebenaran dan kebaikan masing-masing tetapi di situ tidak ada nikmat dan kebahagiaan,” katanya.



Namun, lanjutnya, yang terpenting adalah niat baik masing-masing individu ketika melakukan sesuatu, termasuk beribadah. Tidak perlu menyamakan dengan Rasulullah karena kita tidak tahu bagaimana kehidupan Rasulullah pada saat itu. Di sini Allah akan melihat hatinya masing-masing.



“Jika zaman dahulu Indonesia kaya mulai dari budaya hingga ekonomi, justru saat ini masyarakat memiskinkan diri sendiri. Masyarakat memiskinkan diri secara agama, budaya, memiskinkan diri secara politik sehingga akhirnya berselisih hingga saat ini,” terangnya.



Menurut dia, agama tidak pernah mengajarkan untuk saling mencela dan menyalahkan. Ia mengatakan agama adalah ranah manusia dengan Tuhannya masing-masing.



“Kewenangan Tuhanlah yang akan memberikan amal sesuai ibadah dan perbuatannya, yang terpenting sebagai masyarakat Indonesia dengan budaya tinggi harus bisa saling hormat menghormati dan tidak saling menjatuhkan,” pungkasnya.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.