Jauh Keluarga, Demi Pulau Tetap Bersinar

– BENAHI LISTRIK- Seorang petugas PLN tengan membenahi sambungan listrik di Kepulauan Karimunjawa. FOTO : IST/ANING KARINDRA



MENJADI petugas PLN di wilayah kepulauan seperti Karimunjawa bukanlah hal mudah. Meski pekerjaannya terlihat sepele, namun pengorbanan besar harus mereka lakukan. 


Ya.., demi menekuni profesinya, para petugas PLN di Karimunjawa harus selalu siaga. Bagaimana tidak? Ratusan hingga ribuan warga kini menggantungkan kinerjanya dalam menjaga keandalan listrik di kepulauan yang berada di seberang Pulau Jawa, masuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.


Belum lagi kehidupan pribadinya yang harus rela jauh dari keluarga. Seminggu sekalipun mereka jarang bisa berkumpul dengan keluarganya meski saat hari libur. 
Untuk berkumpul keluarga, para pejuang listrik ini harus menyeberang pulau yang jauhnya ratusan mil dari Kepulauan Karimunjawa. Itupun jika transportasi tersedia dan cuaca mendukung untuk kapal bisa berlayar.


Deburan ombak menjadi hiburan bagi mereka. Pun teriknya panas matahari di Kepulauan Karimunjawa merupakan semangat tersendiri bagi mereka dalam menjalankan tugasnya.


Itu pula yang dialami Anawrata Tungga Dewa (30), salah satu petugas PLN di Kepulauan Karimunjawa. Pria yang sekaligus menjabat sebagai Supervisor PLN untuk wilayah Kepulauan Karimunjawa ini mengisahkan, tugas yang dihadapi bukan sekedar menjaga listrik agar tidak padam pagi, siang, dan malam. Akan tetapi, para petugas PLN juga melayani keluhan pelanggan yang rumahnya mengalami gangguan listrik. 


“Selain itu juga kami harus melayani pelanggan yang ingin melakukan pasang baru listrik untuk rumah, bisnis, maupun usaha industri,” kata Anawrata, yang sudah 10 tahun mengabdi di PLN.


Bapak dua anak ini pun menceritakan kondisi secara umum yang dihadapinya sehari-hari. Kondisi alam yang tidak menentu, kadang panas tiba-tiba hujan dan jauhnya akses ke daratan Pulau Jawa menjadi tantangan tersendiri. 


“Belum lagi kami harus serba terbatas dalam hal akses komunikasi, transportasi dan fasilitas. Namun, dengan segala keterbatasan itu, bersama tim, kami tetap penuh semangat, dan terus bertekad memberikan hasil kinerja yang optimal,” terang Anawrata, yang anak istrinya tinggal jauh di Kudus.


Anawrata mengaku, sehari-hari, dalam menjalankan tugas, ia dibantu 4 rekannya, 2 staf dari PLN (Setyo Pambudi dan Eko Ferdiyanto), serta dibantu 2 mitra kerja PLN untuk pelayanan teknik. 


Bagi mereka, para pejuang listrik di Karimunjawa, menjadi kepuasan tersendiri telah turut berkontribusi dalam memberikan pelayanan di salah satu kepulauan dan destinasi wisata unggulan di Indonesia.


Namun di lain sisi, mereka pun kerap mengalami suatu masa di mana cuaca tidak bersahabat (musim baratan), sehingga tidak ada transportasi sama sekali untuk sekedar pulang bertemu keluarga. Belum lagi, kelangkaan BBM dan bahan pangan di Kepulauan Karimunjawa yang membuat keprihatinan tersendiri.


Di Hari Buruh (1 Mei 2019) ini, Anawrata bersama ke-4 rekannya hanya berharap, apa yang sudah diperjuangkannya dapat bermanfaat bagi banyak orang, baik masyarakat sekitar maupun para wisatawan yang datang. Bagi orang-orang yang bekerja di ujung – ujung pulau terluar sepertinya, kontribusinya terhadap masyarakat merupakan kepuasan dan kebanggaan yang tak ternilai. 


“Dengan listrik yang handal di Kepulauan Karimunjawa ini setidaknya makin menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara lebih banyak lagi untuk berkunjung. Dengan begitu bisa turut mengangkat perekonomian masyarakat di Karimunjawa,” ujarnya.


Perlu diketahui, di Kepulauan Karimunjawa ada 2.106 pelanggan rumah tangga dan bisnis yang menggantungkan penerangan dari PLN, dengan kapasitas daya terpasang mencapai 4.933.200 VA. Adapun sumber energi listrik didapat dari PLTD Legon Bajak, Karimunjawa, yang memiliki kapasitas hingga 2 x 2,2 MW.(aln)