BRI Gelar Public Expose di Semarang

0
38

– PUBLIC EXPOSE 2018- Senior Executive Vice President (SEVP) Treasury & Global Services Bank BRI, Listiarini Dewajanti; Head of Investor Relations Bank BRI, Achmad Royadi; dan Pemimpin Wilayah BRI Semarang, Fidri Arnaldy, usai menjadi pembicara dalam public expose di Ballroom Hotel Gumaya, Semarang. FOTO : ANING KARINDRA

SEMARANG– PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menggelar public expose di Ballroom Hotel Gumaya, Semarang. Hadir dalam acara tersebut Senior Executive Vice President (SEVP) Treasury & Global Services Bank BRI, Listiarini Dewajanti; Head of Investor Relations Bank BRI, Achmad Royadi; dan Pemimpin Wilayah BRI Semarang, Fidri Arnaldy.

Acara ini merupakan public expose kedua Bank BRI di tahun 2018, setelah ebelumnya dilakukan public expose di Jakarta (29/8) dan akan berlanjut di Makassar (27/9).

Dalam pemaparannya, Listiarini menjelaskan, saat ini Bank BRI mempunyai kapitalisasi pasar mencapai USD 27,23 miliar, sehingga termasuk kedalam peringkat bank terbesar nomor 5 di Asia Tenggara. Secara konsisten, Bank BRI juga memberikan profit jangka panjang bagi para investornya, dimana sejak IPO di tahun 2003 hingga saat ini kenaikan harga saham BRI (BBRI) mencapai 32 kali lipat.

“Kinerja cemerlang BRI tersebut disokong oleh kinerja perseroan yang positif dan selalu tumbuh setiap tahunnya,” jelasnya.

Selama 13 tahun berturut turut, lanjutnya, Bank BRI mampu mencetak laba terbesar di industri perbankan Indonesia. Hingga akhir Semester I 2018, laba bersih Bank BRI (bank only) tercatat sebesar Rp.14,5 Triliun atau tumbuh 10,8% yoy.

“Laba bersih BRI ini mencapai 20,5% dari market share laba industri perbankan di Indonesia,” ujarnya.

Tidak hanya laba bersih, lanjutnya, market share pinjaman dan simpanan Bank BRI di Semester I 2018 juga meningkat dibandingkan posisi yang sama tahun lalu. Tercatat, market share pinjaman BRI sebesar 15,3% atau tumbuh dibandingkan dengan posisi Juni 2017 sebesar 14,7%.

Sementara, Bank BRI terus menggenjot pendapatan yang bersumber dari pendapatan non bunga (fee based income). Pendapatan non bunga BRI tercatat tumbuh 11,7% yoy pada akhir Juni 2018.

Sedangkan untuk efisiensi, Bank BRI berhasil menurunkan BOPO dari 72,3% di semester I 2017 menjadi 70,5% di akhir semester I 2018. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan BOPO industri perbankan yakni 79,46%.

Selain itu, Bank BRI juga melakukan efisiensi bisnis proses. Efisiensi yang dilakukan Bank BRI tidak terlepas dari strategi perseroan yang telah melakukan digitalisasi pada proses bisnisnya. Diantaranya, melalui pemanfaatan aplikasi BRISPOT untuk pengajuan proses kredit mikro.

“BRISPOT terbukti mampu mempercepat SLA proses kredit KUR menjadi 1-2 hari saja. Hal ini secara tidak langsung mampu meningkatkan produktivitas tenaga pemasar mikro BRI atau biasa disebut Mantri BRI. Mereka (Mantri BRI) mampu merealisasi rata-rata 17 paket kredit per bulan, lebih tinggi 30 persen dari target,” urai Listiarini.

Selain itu, keberadaan branchless banking milik BRI atau yang biasa disebut agen BRILink, yang saat ini berjumlah 244 ribu, juga meningkatkan efisiensi perseroan.

Sejalan dengan meningkatnya kinerja perseroan, Bank BRI juga terus menyalurkan Bina Lingkungan yang tepat sasaran dan tepat manfaat. Sepanjang tahun 2017, tercatat Bank BRI menyalurkan Rp.150 Miliar dana Bina Lingkungan melalui program BRI Peduli. Di tahun ini Bank BRI juga terus menyalurkan dana Bina Lingkungan melalui 7 sektor, yakni pendidikan, pengentasan kemiskinan, bencana alam, kesehatan, sarana ibadah, pelestarian alam serta pengembangan prasarana dan sarana umum.

Khusus untuk bencana Gempa Lombok, Bank BRI telah menyalurkan bantuan dengan total nilai mencapai Rp.1,6 Milyar dalam bentuk tenda darurat, bahan makanan, obat obatan gratis, selimut serta pembukaan dapur umum. Bank BRI secara konsisten menyalurkan bantuan Bina Lingkungan sebagai wujud komitmen peran BRI yang merupakan agent of development.(aln)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here