Kodim 0733 BS Dukung Budidaya Kopi OKRA

SEMARANG – Kodim 0733 BS Semarang melalui program Ketahanan Pangan mendukung pembudidayaan tanaman obat Okra di Kelompok Tani Masyarakat, salah satunya berada di kampung lemah Gempak, Kelurahan Barusari wilayah Koramil 13 Semarang Selatan.


Melalui kerjasama Pemerintah Kota Semarang dengan Kodim 0733 BS Semarang, pembinaan telah dilakukan melalui Dinas Pertanian dengan pemberian bibit tanaman Okra kepada kelompok tani lahan sempit di Kelurahan Barusari.


Program Ketahanan Pangan, menurut Dandim 0733 BS Semarang Letkol Kav Zubaedi SSos MM melalui Danramil 13 Semarang Selatan Mayor Inf Rahmatullah AR SE MM, telah dicanangkan sejak lama namun untuk budidaya Okra di wilayahnya baru awal 2017.

“Kini kami melakukan evaluasi setelah program budidaya Okra sudah berlangsung hampir dua tahun. Kelompok tani tidak saja bisa memanen, tetapi sudah pada proses pengolahan dan memasarkan. Biji Okra telah diolah menjadi Kopi Okra yang memiliki khasiat sebagai obat menurunkan kadar gula pada penderita diabetes”, ujar Mayor Inf Rahmatullah AR SE MM, saat meninjau budidaya Okra di kampung Lemah Gempal didampingi Lurah Barusari Drs Widayanta.


Dalam hal Ketahanan Pangan ini, menurut Rahmatullah memerankan fungsi Babinsa sebagai motivator pertanian bagi warga masyarakat.

“Mereka menggajak warga untuk berperan aktif menanam dan menggalakkan penghijauan dengan tanaman yang memiliki manfaat sebagai tanaman obat”, ujar Danramil 13 Semarang Selatan.


Whisnu Nugroho, Ketua Kelompok Tani Elgiro (Lemah Gempal Ijo Royo-royo) mengaku cukup berhasil membudidayakan tanaman Okra, namun kendala yang dihadapi setelah menemukan cara pengolahan dan pemasaran produk Okra adalah keterbatasan lahan untuk menanam.

“Cukup mudah untuk menanamnya, tapi kami merasa masih kurang untuk memenuhi produksi Kopi Okra. Karena itu kami ingin bekerjasama dengan pihak yang memilki lahan cukup luas untuk mendukung produksi kami”, ungkap Whisnu Nugroho.

“Harga Kopi Okra dijual Rp 25 ribu per 40gram dan dalam kemasan botol kecil siap minum Rp 6500”, tambahnya.


Hasil panenan biji Okra dari lahan tanam polyback yang ada di kampung Lemah Gempal IV per bulannya tidak lebih dari 250 gram atau 1/4 kilogram. Dari total berat biji yang dipanen setelah dikeringkan, disangrai dan digiling halus menjadi kopi hanya didapat sekitar 50 persennya. Karena itu Whisnu Nugroho berharap akan ada lahan yang bisa digunakan untuk menanam Okra, meski dengan pola kemitraan bagi hasil.


Bagai gayung bersambut, Danramil Semarang Selatan pun menawarkan kepada para Babinsa-nya yang mau mendukung program Ketahanan Pangan dan Go Green dengan menanam Okra. Sersan Mayor Ahmad Sokeh, Babinsa Barusari pun sudah memulai memanfaatkan lahan di rumahnya yang terletak di Mranggen Demak untuk menanam Okra.


“Semoga dengan kesuksesan Ahmad Sokeh nanti akan membawa dampak bagi para Babinsa lainnya. Bagi yang punya lahan nganggur agar bisa produktif ditanami Okra yang memiliki nilai ekonomi sebagai tanaman obat yang bisa diolah menjadi kopi Okra”, ujar Rahmatullah.(aln)